"Ini termasuk angka surplus yang cukup besar, dengan 2011 surplus US$ 1,424 miliar, 2012 defisit US$ 1,89 miliar, 2013 surplus US$ 24,3 juta, dan 2014 defisit US$ 23,5 juta," kata Kepala BPS, Suryamin, dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (16/11/2015).
Angka surplus ini disebabkan nilai ekspor yang lebih tinggi, ketimbang nilai impor yang dilakukan oleh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor migas Indonesia pada periode itu adalah US$ 1,38 miliar, turun 5,09% dari bulan sebelumnya US$ 1,45 miliar. Sementara angka ekspor non migas adalah US$ 10,71 miliar, turun 3,86% dari bulan sebelumnya US$ 11,13 miliar.
"Memang karena harga komoditi yang masih rendah, ekspor masih belum baik. Dibandingkan dengan Oktober 2014, dari 22 komoditas, hanya 2 membaik, yaitu kakao dan jagung," kata Suryamin.
Secara kumulatif Januari-Oktober 2015, ekspor Indonesia adalah US$ 127,22 miliar, turun 14,04% dari periode yang sama tahun lalu.
Ekspor terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati, serta bahan bakar mineral.
Kemudian, angka impor Indonesia di Oktober 2015 adalah US$ 11,07 miliar, turun 4,27% dibandingkan September 2015. Secara volume, angka impor Indonesia di Oktober juga turun 6,32% dibandingkan September 2015.
Nilai impor migas turun 8,12% di Oktober 2015, dari US$ 1,91 miliar menjadi US$ 1,76 miliar. Kemudian nilai impor non migas turun 3,5%, dari US$ 9,65 miliar menjadi US$ 9,31 miliar.
Secara kumulatif, angka impor Indonesia adalah US$ 119,05 miliar, turun 20,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik, serta mesin dan peralatan listrik.
(dnl/ang)











































