Direktur utama PT Pelindo II, RJ Lino mengkritik pembangunan jalur kereta api menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Menurut pria yang beken dipanggil Lino itu, beberapa negara seperti Australia dan Jepang menerapkan pengangkutan barang menuju pelabuhan memakai kereta api.
Namun, porsi barang yang diangkut melalui kereta api sangat kecil.
"Jangan terlalu anggap kereta api menyelesaikan masalah. Itu nggak. Kan bisa gunakan benchmark di seluruh dunia. Di negara lain ada Australia, market share nya itu cuma 7%. Jepang itu cuma 3,8%," ungkapnya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (17/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Priok, market share 3% itu sudah istimewa. Karena ke priok itu kereta api lewat Kramat, Pulo Gadung, Kemayoran. Lintasannya satu bidang. Jadi kalau banyak sekali itu macetnya di mana-mana. Apalagi di Jakarta itu kan prioritas adalah manusia, kereta penumpang. Makanya kalau 3% itu sudah istimewa," papar Lino.
Meski demikian, Lino mengaku persoalan kereta api sudah selesai. Dari informasi yang diterimanya, lahan sudah selesai dan tidak dalam waktu lama akan selesai.
"Bagian saya kan siapkan lahannya, 2 tahun lalu sudah siap lahannya, tapi masalahnya untuk masuk kesana ada lahan penduduk yang harus dibebaskan. Sudah selesai itu masalahnya. Bagian saya sudah disediakan," kata Lino.
(mkl/hns)











































