Hal tersebut diungkapkan JK dalam sambutannya di acara CEO Summit Konferensi Tingkat Tinggi, Komite Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2015, di Hotel Sangri-La, Makati, Manila, Filipina, Rabu (17/11/2015).
“Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang inklusif adalah kunci untuk tetap menjaga daya saing ekonomi. Kita ingin menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Fundamental ekonomi Indonesia sehat dan kuat,” tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 4,7%. Defisit anggaran dijaga di bawah 2,5% dari Produk Domestik Bruto (GDP). Sementara inflasi diperkirakan akan berada di kisaran 4% dengan catatan neraca perdagangan surplus.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara bertahap akan terus membaik. Meskipun saat ini mengalami pelemahan, namun rupiah dinilai masih lebih kuat dibandingkan mata uang negara Asia lainnya.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Tahun depan akan ada tambahan lebih dari 60 juta kelas menengah,” katanya.
Meski demikian, JK menyadari jika perekonomian saat ini memang dalam tren melambat. Hal tersebut salah satunya terimbas dari penurunan harga komoditas.
Indonesia, kata JK, akan terus berjuang meningkatkan perekonomian ke depan melalui berbagai strategi.
“Kita tingkatkan kompetisi kita dan menjaga iklim investasi yang kondusif,” kata JK.
(drk/rrd)










































