KPPU Cium Praktik Kartel Beras di Jakarta

KPPU Cium Praktik Kartel Beras di Jakarta

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 19 Nov 2015 08:20 WIB
KPPU Cium Praktik Kartel Beras di Jakarta
Ilustrasi (Foto: dok. detikFinance)
Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mensinyalir ada praktik bisnis tak sehat dalam rantai pasok beras di Jakarta. Hal ini terindikasi dari mulai sulitnya pasokan beras medium di Pasar Induk Cipinang (PIC), serta harga beras medium yang berada di atas Rp 9.000/kg di tingkat pasar induk.

Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan, dari hasil penelusurannya, pemasok beras di Jakarta sendiri dikuasai 6-7 pemasok besar. Kondisi ini membuat penetapan harga dan pasokan beras seperti di PIC bisa dikendalikan.

“Bukan mafia, saya sebut ada kemungkinan kartel di pasokan. Beras di Jakarta rata-rata dari Jawa Barat, sisanya dari Jawa Tengah. Bulog ini dengan pasokan berasnya di gudang ini hanya kuasai 20% saja, sisanya yang beras beredar ini dari 5-6 perusahaan itu sebesar 80%,” ujar Syarkawi pada detikFinance, Rabu (19/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indikasi adanya kartel dalam rantai pasok beras di Ibu Kota, kata Syarkawi, terindikasi dari pasokan beras medium yang mulai ‘menghilang’ di pusat grosir beras seperti di PIC.

“Kalau beras defisit naik masih wajar, tapi kadang beras produksi surplus pun masih naik. Sekarang saja harga beras medium jenis IR 64 ini di kisaran Rp 9.000-10.000/kg, sementara dengan harga di tingkat beras di tingkat penggilingan pada kisaran Rp 7.000/kg. Beras yang Rp 8.000 itu paling jelek, banyak pecahnya,” kata Syarkawi.

Meski diakui ada 6-7 pemain besar, pihaknya masih menyelidiki apakah ada kemungkinan praktik kartel atau memang hanya karena kelangkaan saja.

“Laporan pedagang katanya yang beras medium IR 64 ini kurang. Padalah data kami dari dinas pertanian daerah, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan masih katanya masih normal. Kita lagi lihat apa yang pemain besar ini main harga atau data pemerintah yang salah,” tutupnya.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads