Menteri Perdagangan (Mendag) Tom Lembong menilai, tingginya angka defisit ini disebabkan anjloknya harga komoditas seperti batu bara, sawit dan lainnya. Sebagian besar ekspor Indonesia ke China adalah komoditas. Saat harga komoditas merosot, tentu akan mengurangi nilai ekspor Indonesia.
โSejauh ini yang utama itu masih mentah, minerba, komoditi, kita ekspor ke China, begini kan sejarah kita ekspor ke China itu mayoritas mentah, nikel, bauksit, alumunium, batu bara, semua harga ini kan anjlok, jadi bukan volumenya yang menurun tapi harganya, jadi bukan suatu defisit yang salah tapi harganya yang turun,โ jelas Tom Lembong dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi, Komite Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2015, di New World Hotel, Makati, Filipina, Kamis (19/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor komoditas ke China, sudah seharusnya untuk ikut mengubah barang ekspor dari komoditas menjadi barang-barang konsumsi.
โMereka mau mengurangi perindustrian dan lebih ke konsumsi, mereka lebih mau ke masyarakat, konsumen, karena itu permintaannya pakaian, fashion, alas kaki, mebel jadi lebih lifestyle, makanan dan minuman, dan itu semuanya barang-barang konsumsi, jadi kita mesti membangun industri kita, industri tekstil, sepatu, mebel, industri perhiasan untuk life konsumen,โ kata Lembong.
Sebagai informasi, defisit perdagangan Indonesia dengan China paling besar dibandingkan dengan negara lainnya. Dengan Thailand, Indonesia defisit US$ 2,7 miliar dan Australia sebesar US$ 1,4 miliar, kemudian adalah Jerman, Jepang dan Korea Selatan.
(drk/hen)











































