Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menuturkan persoalan defisit tersebut menjadi sangat mengkhawatirkan bagi BI dan pemerintah. Maka kemudian dilakukan pengetatan dari berbagai aspek, hingga akhir defisit mulai mengecil.
"Pada 2013 itu kita masih harus mencari pendanaan dari luar negeri untuk menutup defisit US$ 31 miliar. Tahun ini angkanya itu sekitar US$ 15 miliar," ujarnya pada acara Outlook Ekonomi dan Pasar Modal 2016 di JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (19/11/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Defisit turun, apa karena impornya turun? Ya bisa saja. Tapi apapun itu alasannya, yang penting defisit turun, risiko turun," terang Mirza.
Perbaikan makro ekonomi lainnya juga tampak dari inflasi. Pada 2013, inflasi mencapai posisi 8-3-8,4% akan tetapi sekarang diproyeksi selama 2015 bisa berada di level 3%.
"Orang bilang inflasi rendah karena daya beli lemah? Ya whatever the reason, inflasi turun. Kalau inflasi di bawah 3,5%, kalau bisa di bawah 3%, baru kemudian kita bisa bicara suku bunga," ujarnya.
Meski demikian, Mirza mengakui sisi neraca pembayaran atau balance of payment (BOP) masih bermasalah. Namun angka defisitnya sudah menunjukkan perbaikan dari tahun sebelumnya. Sedangkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit/cad juga ke level yang baik.
"BOP sekarang kita defisit, tahun 2014 surplus US$ 15 miliar, tahun ini defisit. Tapi kemudian tahun depan kami perkirakan akan positif kembali," terang Mirza.
(mkl/hns)











































