Hal ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Tom Lembong dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi, Komite Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2015, di New World Hotel, Makati, Filipina, Kamis (19/11/2015).
"Saat ini semua orang berpikir keras, bagaimana mencari solusi yang tepat. Ini mungkin fase paling keras berpikir dalam beberapa tahun terakhir. Karena demikian parahnya kebakaran gambut tahun ini," kata Tom Lembong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dunia tidak bias hidup tanpa minyak sawit. Proporsi minyak sawit saat ini untuk total kebutuhan minyak nabati dunia begitu besar, tidak mungkin dihilangkan," katanya.
Tom mengatakan saat ini memang banyak produk pengganti atau subtitusi produk minyak sawit, namun tak akan cukup memenuhi permintaan dunia. Beberapa produk sejenis antara lain minyak bijih matahari, minyak kedelai, minyak rapeseed dan lain-lainnya.
"Pasokan (sawit) dikurangi saja, akan mengabikatkan banyak masalah, karena kebutuhan minyak nabati cukup besar," katanya.
Ia mengatakan adanya kasus kebakaran hutan tahun ini yang parah, membuat Indonesia menjadi perhatian dunia. Sehingga solusi permanen penting seperti penerapan industri sawit yang berkelanjutan.
"Minyak satwit penting, siapa pun berkampanye hitam tidak masuk akal. Tinggal mencari praktek yang sustainable dan ramah lingkungan," katanya.
(hen/hns)










































