Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) disinyalir terealisasi pada Desember mendatang. Besarannya kemungkinan adalah 0,25 basis point (bsp) untuk tahap pertama.
"Jadi ketika the fed naikkan suku bunga, apa lantas ekonomi dunia akan menjadi indah? apakah sumber ketidakpastian akan hilang, atau muncul ketidakpastian baru lagi. Ini yang blum pasti juga," tegas Firmanzah dalam acara Outlook Ekonomi dan Pasar Modal 2016 di JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (19/11/2015)
Dalam beberapa analisis ekonomi, Firmanzah menyampaikan, AS memiliki sejarah yang buruk soal kenaikan suku bunga. Yaitu ketika periode 1980. AS menaikan suku bunga secara gradual dalam beberapa bulan, dan berakhir di tahun selanjutnya dengan krisis pasar keuangan.
"Dari serangkaian analis, ada yang coba untuk memetakan dampak dari kenaikan suku bunga dari 1955. Dann yang menarik, ketika 1980 bulan April hingga Agustus, itu AS melakukan serangkaian kenaikan suku bunga dan 1981 AS dalam kndisi krisis, resesi ekonomi," paparnya.
Kenaikan suku bunga, tidak serta merta akan direspon oleh investor dalam sekejap. Artinya aliran dana yang kembali ke AS dari negara-negara lain dimungkinkan berlangsung sampai dengan beberapa bulan ke depan. Firmanzah memperkirakan selama enam bulan.
"Banyak analis memperkirakan ada periode adjustment selama 6 bulan, pasca kenaikan fed fund rate, akan banyak negara yang coba menaikan suku bunga. Jdi masih belum tahu ekonomi dunia akankah lebih baik atau seperti sekarang atau jangan-jangan bertambah melambat," kata Firmanzah.
Firmanzah tidak membantah proyeksi ekonomi dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) serta para ekonom lainnya, yang optimis ekonomi global dan Indonesia akan membaik. Namun optimisme tersebut ditegaskan masih dalam sisi ketidakpastian.
"Bahwa outlook ekonomi Indonesia, tetap optimis tapi optimis di tengah ketidakpastian. Karena belum ada yang bisa memastikan, ketika suku bunga naik 0,25 bsp di Desember nanti. Apakah volatilitas di market akan hilang," tukasnya.
Hal ini tentunya berbeda dengan yang disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. Mirza sebelumnya mengatakan, kenaikan suku bunga acuan AS akan menghilangkan ketidakpastian ekonomi global. Sehingga pasar keuangan bisa lebih tenang.
(mkl/ang)











































