Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan penambahan pekerja ini menjadi salah satu yang instrumental terhadap upaya pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 2 juta per tahunnya.
“Dengan melihat persentase 84% ini positif mengingat pemerintah saat ini menjadikan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu prioritas keberhasilan pembangunan ekonomi," jelas Franky dalam keterangan tertulis Kamis (19/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan profil 82% responden Indonesia merupakan eksekutif level teratas di perusahaan, dan 57% responden Indonesia adalah bisnis berpendapatan kurang dari USD 500 juta. Artinya ada 43% responden lainnya yang memiliki bisnis berpendapatan diatas US$ 500 juta.
Franky menambahkan bahwa untuk menjadikan persepsi positif dari hasil survei ini, pemerintah akan terus mendorong realisasi investasi, termasuk yang berasal dari negara-negara APEC.
Berbagai paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah, termasuk di antaranya kemudahan layanan investasi 3 jam juga diluncurkan untuk memberikan stimulus bagi percepatan realisasi investasi sehingga dapat memberikan dampak positif penambahan tenaga kerja.
“Survei ini juga bermanfaat dalam memberikan gambaran kepada pemerintah bagaimana dunia usaha memproyeksikan pertumbuhan bisnisnya 12 bulan ke depan. Kalau ada rencana menambah pekerja artinya optimistis bisnis mereka akan tumbuh,” sebutnya.
Berdasarkan data BKPM realisasi investasi hingga triwulan III-2015 berkontribusi pada memberikan penyerapan tenaga kerja hingga 1.059.734 orang, naik 9,3 % dari tahun lalu sebanyak 960.336 orang. Angka ini diharapkan dapat menyentuh posisi 1,4 juta orang hingga akhir tahun.
Sebelumnya, PwC dalam survei yang dirilis beberapa hari lalu (16/11/2015) menyebutkan posisi Indonesia sebagai negara tujuan investasi utama di antara negara anggota APEC bersama dengan RRT dan Amerika Serikat.
Hasil survei menyebutkan mayoritas responden atau 52% CEO menyatakan akan meningkatkan investasinya ke Indonesia, dan 38% lainnya bertahan pada nilai investasi yang sama.
Angka tersebut merupakan prosentase tertinggi setelah RRT. Responden Survei PwC tersebut juga memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap perekonomian Indonesia dalam periode menengah 3-5 tahun mendatang. Keyakinan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode jangka pendek di jangka waktu 12 bulan mendatang.
(hen/hns)











































