Pedagang: Kalau Ada Kartel Beras, Tangkap Saja!

Pedagang: Kalau Ada Kartel Beras, Tangkap Saja!

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 19 Nov 2015 15:50 WIB
Pedagang: Kalau Ada Kartel Beras, Tangkap Saja!
Jakarta - Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) DKI Jakarta membantah soal dugaan kartel beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur.

Mereka menanggapi soal dugaan KPPU bahwa ada 5-6 pemain besar di setiap provinsi yang mengendalikan pasokan dan harga beras dianggap mengada-ada, sebab ada 600 pedagang beras di PIBC.

Ketua Perpadi DKI Jakarta Nellys Soekidi, meminta KPPU sebaiknya membuktikan dan menindak bila memang benar ada pedagang-pedagang besar yang melakukan kartel beras, jangan hanya membuat pernyataan-pernyataan.
Β 
"KPPU jangan banβ€Žyak bicara, kalau ada kartel ditindaklanjuti, tangkap saja. Di PIBC ada 500-600 pedagang, bagaimana mau nyetir harga?" kata Nellys kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (19/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nellys menyebut rata-rata pedagang di PIBC hanya memegang 60 ton beras per hari, sehingga β€Žsangat kecil kemungkinan ada yang melakukan kartel. "Bagaimana mau kartel?" tanya Nellys.

Sebelumnya, KPPU mensinyalir ada praktik bisnis tak sehat dalam rantai pasok beras di Jakarta. Hal ini terindikasi dari mulai sulitnya pasokan beras medium di Pasar Induk Cipinang (PIC), serta harga beras medium yang berada di atas Rp 9.000/kg di tingkat pasar induk.

Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan, dari hasil penelusurannya, pemasok beras di Jakarta dikuasai 6-7 pemasok besar. Kondisi ini membuat penetapan harga dan pasokan beras seperti di PIC bisa dikendalikan.

β€œBukan mafia, saya sebut ada kemungkinan kartel di pasokan. Beras di Jakarta rata-rata dari Jawa Barat, sisanya dari Jawa Tengah. Bulog ini dengan pasokan berasnya di gudang ini hanya kuasai 20% saja, sisanya yang beras beredar ini dari 5-6 perusahaan itu sebesar 80%,” ujar Syarkawi pada detikFinance.

Indikasi adanya kartel dalam rantai pasok beras di Ibu Kota, kata Syarkawi, terindikasi dari pasokan beras medium yang mulai β€˜menghilang’ di pusat grosir beras seperti di PIC.

β€œKalau beras defisit naik masih wajar, tapi kadang beras produksi surplus pun masih naik. Sekarang saja harga beras medium jenis IR 64 ini di kisaran Rp 9.000-10.000/kg, sementara dengan harga di tingkat beras di tingkat penggilingan pada kisaran Rp 7.000/kg. Beras yang Rp 8.000 itu paling jelek, banyak pecahnya,” kata Syarkawi.

Ia diakui ada 6-7 pemain besar, pihaknya masih menyelidiki apakah ada kemungkinan praktik kartel atau memang hanya karena kelangkaan saja.

β€œLaporan pedagang katanya yang beras medium IR 64 ini kurang. Padalah data kami dari dinas pertanian daerah, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan masih katanya masih normal. Kita lagi lihat apa yang pemain besar ini main harga atau data pemerintah yang salah,” tutup Syarkawi.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads