Seperti diketahui, produksi kendaraan bermotor nasional belum mencapai kapasitas produksi terpasang sebesar 1,9 juta unit setiap tahun. Bahkan tahun 2015 ini, Gaikindo memprediksi produksi hanya mencapai 1 juta unit.
Gaikindo mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah konkret dari sisi regulasi, teknologi hingga infrastruktur demi membangun industri otomotif dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi teknologi, kata Dana, RI perlu punya institut khusus teknik permesinan yang bisa memberi pelatihan dan menerbitkan sertifikat keahlian bagi para tenaga kerja.
"Kemudian dari sisi teknologi, Indonesia perlu mengembangan Indonesian Engineering Institute yang bisa memberikan sertifikat keahlian engineering teknik mesin," tambah Dana.
Dari sisi regulasi, kata Dana, pemerintah perlu merancang agar RI menjadi negara yang bersahabat bagi para investor di sektor otomotif termasuk industri komponen. Gaikindo melihat, RI perlu menggaet lebih banyak investor di tier 2 dan tier 3 yang menyuplai berbagai komponen kecil kendaraan bermotor.
"Satu mobil bisa terdiri dari 2.000 komponen kecil-kecil yang digarap ratusan perusahaan komponen. Saya kira kita bisa meningkatkan daya saing dan komponen lokal tidak hanya barangnya, tetapi macinery dan produksinya. Gaikindo ingin meningkatkan investasi di tier 2 dan tier 3 yang menyuplai berbagai material dasar dan kecil-kecil dari komponen otomotif kendaraan bermotor," jelas Dana.
Dana mengatakan, industri otomotif haris dibangun dari hulu. Penyediaan bahan baku industri otomotif dari industri baja semestinya bisa disuplai dari dalam negeri seperti yang dilakukan Thailand.
"Apple to Apple dengan Thailand memang supply base kita masih kurang. Di dalam negeri suplai baja dan logam penting lain masih kurang. Pembangunan industri otomotif perlu terintegrasi dengan industri baja misalnya dengan pembangunan smelter di dalam negeri," katanya.
(hen/hen)











































