Pasokan Beras Medium Berkurang di Cipinang, Ini Penyebabnya

Pasokan Beras Medium Berkurang di Cipinang, Ini Penyebabnya

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2015 17:02 WIB
Pasokan Beras Medium Berkurang di Cipinang, Ini Penyebabnya
Jakarta - Berdasarkan pengakuan pedagang, pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih normal, di atas 3.000 ton per hari. Namun harga beras kualitas III atau beras medium sudah melonjak hingga kisaran Rp 9.000/kg. Kenaikan harga ini karena pasokan beras medium seperti IR 64 berkurang ke pasar 2 bulan terakhir.

Pasokan beras medium ke PIBC memang merosot, biasanya pasokan beras medium yang banyak dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah mencapai 1.000‎ ton/hari, tapi saat ini tinggal 300-400 ton/hari, akibatnya harga melompat ke Rp 9.000-9.100/kg dari tingkat normal Rp 8.200-8.300/kg.

‎Sebagian besar beras yang masuk ke PIBC saat ini adalah beras kualitas II yang harganya Rp 9.300-9.400/kg dan beras kualitas I yang harganya Rp 9.500-9.600/kg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) Sutarto Alimoeso menjelaskan, melonjaknya pasokan beras premium dan merosotnya suplai beras medium tersebut merupakan dampak dari kualitas gabah pada musim kemarau.

Beras yang masuk ke pasar saat ini adalah hasil panen pada musim kemarau yang berlangsung sampai Oktober lalu. Ketika musim kemarau, penjemuran gabah tentu lebih sempurna dibanding saat musim hujan, kadar airnya menjadi sedikit sehingga kualitasnya bagus.‎ Dengan begitu, otomatis beras yang dihasilkan sebagian besar adalah kualitas II dan kualitas I.

"Beras yang dijual ke pasar sekarang ini kan hasil panen musim kemarau. Kalau musim kemarau, kualitas gabah tentu lebih bagus," ujar Sutarto yang juga Mantan Dirut Perum Bulog ini kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Menurut Sutarto, penggilingan-penggilingan padi cenderung lebih memilih mengolah gabah-gabah yang bagus itu menjadi beras premium. Jika digiling menjadi beras medium, harga beras menjadi lebih rendah sehingga pendapatan yang diperoleh penggilingan lebih sedikit.

"Penggilingan enggan menurunkan kualitas beras. Kalau bisa jual premium, ngapain jual kualitas medium," ucapnya.

Selain itu, berkurangnya pasokan beras medium juga dipengaruhi oleh siklus panen dan el nino. Produksi pada akhir tahun memang biasanya sedikit, apalagi ada el nino.

"Kalau kemarau panjang, tentu panen‎ tidak sebanyak biasanya," tutupnya.

Sebelumnya, KPPU mensinyalir ada praktik bisnis tak sehat dalam rantai pasok beras di Jakarta. Hal ini terindikasi dari mulai sulitnya pasokan beras medium di Pasar Induk Cipinang (PIC), serta harga beras medium yang berada di atas Rp 9.000/kg di tingkat pasar induk.

Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan, dari hasil penelusurannya, pemasok beras di Jakarta sendiri dikuasai 6-7 pemasok besar. Kondisi ini membuat penetapan harga dan pasokan beras seperti di PIC bisa dikendalikan.

“Bukan mafia, saya sebut ada kemungkinan kartel di pasokan. Beras di Jakarta rata-rata dari Jawa Barat, sisanya dari Jawa Tengah. Bulog ini dengan pasokan berasnya di gudang ini hanya kuasai 20% saja, sisanya yang beras beredar ini dari 5-6 perusahaan itu sebesar 80%,” ujar Syarkawi.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads