Berdasarkan penelusuran KPPU, pemasok beras di Jakarta sendiri dikuasai 6-7 pemasok besar. Kondisi ini membuat penetapan harga dan pasokan beras seperti di PIBC bisa dikendalikan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) Sutarto Alimoeso menepis dugaan adanya kartel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, kondisi pasar beras berbeda dengan gula, gandum, atau kedelai yang pemasoknya sangat terbatas di Indonesia. Dirinya sangsi ada kartel beras di Indonesia. "Beras itu berbeda dengan gula, gandum, atau kedelai yang bisa kartel," ucapnya.
Sutarto juga mengoreksi pernyataan KPPU yang menyebut hanya ada sekitar 7 pemasok besar ke PIBC. Menurut perhitungannya, ada sekitar 30-an pedagang besar di PIBC, bukan 6-7 seperti dugaan KPPU. "Ada puluhan pedagang besar (di PIBC), bukan kurang dari 10," sebutnya.
Meski demikian, dia meminta pemerintah tetap waspada dan menjaga stabilitas harga beras dengan memperkuat peran Perum Bulog. "Pemerintah harus memperkuat Perum Bulog untuk menjaga stabilitas harga beras di dalam negeri," tandasnya.
Sebagai informasi, meski pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih terhitung normal karena di atas 3.000 ton per hari, namun harga beras kualitas III atau beras medium sudah melonjak hingga kisaran Rp 9.000/kg.
Pasokan beras medium ke PIBC memang merosot belakangan ini. Biasanya pasokan beras medium yang banyak dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah mencapai 1.000 ton/hari, tapi saat ini tinggal 300-400 ton/hari, akibatnya harga melompat ke Rp 9.000-9.100/kg dari tingkat normal Rp 8.200-8.300/kg.
Sebagian besar beras yang masuk ke PIBC saat ini adalah beras kualitas II yang harganya Rp 9.300-9.400/kg dan beras kualitas I yang harganya Rp 9.500-9.600/kg. Anjloknya pasokan beras medium ini diduga KPPU akibat ulah kartel beras.
(rrd/rrd)











































