"Dari 25 akan menjadi 9-10 perusahaan," kata Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar H Sampurno di Kapal KM Kelud, Semarang, Minggu (22/11/2015)
Untuk BUMN pertambangan, menurut Fajar kapasitas perusahaan yang ada sekarang masih kecil dibandingkan yang ada di dunia. Maka dari itu akan ada holding BUMN pertambangan untuk pengelolaan nikel, emas, timah dan alumunium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian BUMN perkapalan dan industri berat. Hal ini merupakan upaya untuk mendorong penguatan di sektor kelautan. Fajar menyebutkan ada beberapa lokasi akan dibangun pusat pemeliharaan dan perbaikan kapal.
"Kita harus melihat dari kepentingan yang jelas dalam rangka penyatuan kekuatan di bidang galangan kapal, perkapalan industri berat. Kita punya banyak sekali dari Sabang sampai Ambon. Ini betul-betul dikembangkan supaya bisa dimanfaatkan sebagai pusat-pusat pemeliharaan dan perbaikan kapal. Itu potensial holding, nanti ada di merge atau digabungkan," kata Fajar.
Selanjutnya adalah perusahaan yang bergerak di sektor industri berbasis teknologi, antara lain sektor dirgantara dan energi terbarukan. Fajar belum dapat memberikan gambaran lebih rinci, karena masih akan ada analisa lanjutan.
"Sedang dikaji, belum jelas bentuknya tapi itu akan kekuatan disatukan akan menjadi industri berbasis teknologi, dirgantara dan high tech. Itu bisa diarahkan ke renewable energy, kemudian industri pertahanan, kemudian elektronika," katanya.
(mkl/hen)











































