Gagal Dapat PMN, RNI Kerja Keras Cari Utang

Gagal Dapat PMN, RNI Kerja Keras Cari Utang

Muhammad Aminudin - detikFinance
Senin, 23 Nov 2015 07:24 WIB
Gagal Dapat PMN, RNI Kerja Keras Cari Utang
Ilustrasi (Foto: dok. detikFinance)
Malang -

Batalnya pencairan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada APBN 2016 membuat PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mengalihkan pencarian modal ke berbagai pihak.

Sehingga pada tahun mendatang, perusahaan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah menyiapkan modal sebesar Rp 3 triliun.

"Kami sudah siap, meski PMN batal," kata Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi RNI Agung Primanto Murdanoto usai tutup giling di Pabrik Gula Krebet Baru II Jalan Raya Bululawang, Minggu (22/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan, batalnya PNM saat pembahasan APBN 2016 tidak berpengaruh kepada perusahaannya. Dana tersebut sebenarnya dapat mendongkrak pembayaran utang kepada pemerintah. RNI awalnya akan menerima PMN sebesar Rp 6,5 triliun untuk pengembangan perusahaan.

"Kami kan punya utang kepada pemerintah, jika PMN itu turun dananya akan digunakan untuk membayar," ungkap Agung yang enggan menyebut besaran utangnya kepada pemerintah.

Ia mengatakan, PMN yang diberikan pemerintah tidak berbentuk uang tunai. Sehingga ketika ada pembatalan, pengaruhnya tidak besar.

"Bentuknya bukan cash money, kita sadari butuh modal. Makanya mencari ke pihak lain dan untungnya kami mampu, untuk tahun depan sudah siap Rp 3 triliun untuk biaya operasional perusahaan di bawah RNI," bebernya.

Di tahun mendatang, pihaknya akan terus melakukan efesiensi agar beban biaya bisa terkurangi. Sehingga perusahaan yang dijalankan akan meraup laba cukup besar.

"Biaya operasional kami cukup besar, makanya efesiensi masih sebuah hal sangat penting. Kami yakin dengan kerja keras dan efesiensi perusahaan akan meraih kesuksesan tanpa stimulan PMN," tegasnya.

Dia mencontohkan keberhasilan PG Rajawali I yang mampu menempuh prestasi bagus di musim giling tahun ini dengan rendemen (kadar gula tebu) 9 sampai 10. Capaian ini diharapkan bisa lebih baik dan menjadi contoh anak perusahaan RNI di wilayah lain.

"Jawa Barat cukup buruk, kami ingin Rajawali I menularkan prestasi nanti," ujarnya.

Sementara PG Krebet I dan PG Krebet Baru II perusahaan penggilingan tebu di bawah komando PT PG Rajawali I mampu menembus target rendemen di atas 9, bahkan capaian rendemen untuk PG. Krebet Baru II sebesar 10,3.

"Ke depan kami berupaya menyamakan rendemen tebu yang ditebang awal petani. Sehingga target rendemen yang diinginkan bisa terwujud," ungkap General Manager PG Krebet Baru Audry Jolly Lapian terpisah.

Dia melanjutkan, pada tahun 2017 mendatang rendemen tebu untuk tebang awal musim giling ditargetkan di posisi 11. Tanaman tebu yang ditebang dihasilkan dari bibit tanam yang diberikan oleh PG Krebet Baru.

"Target kami seperti itu, jika sekarang bisa terbaik nasional soal rendemen. Pada 2017 nanti, kami menjadi yang terbaik se-Asean," tandasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads