Hal tersebut seperti diungkapkan Menteri Perdagangan dan Investasi Australia, Andrew Robb, ketika berbincang dengan detikFinance, dan 8 media dari China, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Inggris, di Darwin Convention Centre, Australia beberapa waktu lalu.
"Australia akan menjadi salah satu eksportir terbesar di dunia," ujar Robb.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti proyek Gorgon LNG Chevron yang melenan biaya investasi sekitar US$ 54 miliar, ada lagi proyek LNG Inpex senilai US$ 33 miliar yang menjadi salah satu investasi swasta terbesar di Northern Territory," ujar Robb.
Ia menambahkan, selain itu ada lagi proyek pengembangan shale gas di bagian Australia Barat yang diperkirakan memiliki cadangan sebesar 229 trillion cubic feet (TCF).
"Jumlah ini merupakan cadangan terbesar shale gas Australia," tambahnya.
Robb menambahkan, saat ini juga sedang dibangun kilang LNG yang mengolah gas dari coal seam gas (CSG) atau lapisan gas batu bara. Proyek kilang ini mampu memproduksi CSG dalam bentuk LNG selama 30 tahun lebih.
Proyek ini bernama Australia Pacific LNG, merupakan proyek patungan antara ConocoPhillips (37,5%), Origin Energy (37,5%), dan Sinopec (25%). Proyek ini menelan biaya investasi sekitar US$ 24,7 miliar.
"Beberapa proyek gas sudah ada kontrak jual ke Jepang. Tentunya dengan potensi besar ini, pertama daya tarik investor untuk investasi di Australia, karena pasokan gas akan terjamin dalam jangka panjang. Kedua, gas ini bisa diekspor ke wilayah Asia lainnya, seperti Indonesia, Korea dan lainnya," tutup Robb.
(rrd/ang)











































