Tom Lembong Ungkap Masalah Besar Perekonomian China

Tom Lembong Ungkap Masalah Besar Perekonomian China

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2015 11:48 WIB
Tom Lembong Ungkap Masalah Besar Perekonomian China
Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Tom Lembong, mengungkapkan, saat ini China merupakan salah satu kekuatan ekonomi di dunia, apalagi mata uang China yakni renminbi akan menjadi mata uang global. Namun, di balik itu semua, saat ini ada masalah besar diperekonomian China.

"Renminbi ekspektasi kita akan menjadi mata uang global kelima. Sebelumnya dolar AS, euro, yen, dan poundsterling," kata Lembong di acara, Indonesia Economic Outlook 2016, 'A Maritime Nexus Silk Road Synergy Entering the TPP Era', di Hotel JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Menurut Lembong, China sendiri sedang menghadapi masalah besar dalam perekonomiannya, mulai dari sektor industrinya yang kelebihan kapasitas, terjadi kredit macet yang cukup tinggi di China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"China ini sedang menghadapi masalah yang besar, industri over capacity, bangun terlalu banyak pabrik, kredit macet gila-gilaan, tapi mereka nggak berani tutup pabrik-pabrik ini," ujar Lembong.

Kondisi ini yang membuat barang-barang asal China membanjiri banyak negara dan membuat beberapa negara khususnya Eropa, mengambil langkah memproteksi serbuan barang dari China.

"Produk keluar terus membanjiri pasar dunia, ini situasi tidak sustainable. Kemarin Eropa saja mau pasang anti dumping bola baja, jadi ini bisa berdampak pada kerugian pabrik baja mereka," ungkapnya.

Melihat kondisi ini, Lembong telah menyampaikan langsung kepada pemerintah China, agar memperbaiki situasi ini, dengan tidak lagi menyerbu barang-barang dari negaranya, melainkan mengganti dengan serbuan investasi, salah satunya di Indonesia.

"Saya sampaikan ke Menteri Perdagangan China. Saya prihatin, kita defisit perdagangan dengan China US$ 14 miliar per tahun, impor US$ 30 miliar per tahun. Kita mau memanfaatkan momen TPP, mengimbau China untuk lebih kreatif. Saya sampaikan kepada mereka dan ASEAN, untuk dua negara imbang itu bukan soal perdagangan, kita masih defisit dengan China, jika US$ 14 miliar ini bisa balik ke Indonesia dalam bentuk investasi baik, misalnya dalam bentuk arus wisata," terang Lembong.

Ia telah menyampaikan kepada menteri perdagangan China agar berpikir tak hanya perdagangan namun juga meningkatkan investasi, pariwisata, perindustrian ke Indonesia.

"Jadi kita mau memanfaatkan TPP ini untuk merespons dengan nggak kalah dahsyatnya, maka itu mengapa alasan Pak Jokowi ke China kejar terus investasi, jadi China harus recyle surplus dagangnya untuk investasi dengan mitra dagangnya apakah dengan investasi, pariwisata dan lain-lain," tutup Lembong.

(rrd/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads