Indonesia masih tercatat sebagai produsen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Tapi, mengapa Indonesia belum bisa bersaing dengan negara ASEAN lainnya?
Seorang petani penghasil beras organik bernama Yulianto mengatakan, keterlambatan penyediaan faktor produksi yang terlihat sepele seperti pupuk subsidi bisa mengurangi tingkat efisiensi petani. Hal tersebut bisa menjadi penyebab beras Indonesia kalah saing dengan beras Vietnam maupun Thailand.
"Saya dan petani lain nggak pernah dapat pupuk subsidi di waktu jelang tanam. Sangat sedikit yang menikmati pupuk bersubsidi tepat waktu dan sesuai jumlah yang diperlukan. Itu yang membuat biaya lebih mahal. Hanya sebagian besar pupuk subsidi yang sampai. Itu kenapa beras kita kalah saing dari Vietnam dan Thailand," Yulianto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yulianto, mencontoh pembiayaan untuk petani dengan sistem di China dan India untuk menurunkan biaya produksi beras.
Β "Kenapa di China, India, biaya produksi bisa lebih murah? Kredit petani nggak pakai jaminan. Kalau gagal panen, bayar cicilan bisa diundur. Lah kita petaninya ngutang ke tengkulak," ujarnya.
Yulianto menambahkan, untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau pasar bebas lainny, supaya Indonesia bisa ekspor beras, pemerintah harus bisa mensubsidi harga beras.
"Biaya produksi harus efisien. Pemerintah harus menolong dengan mensubsidi harga beras petani untuk menolong petani secara langsung," kata Yulianto
Selain itu, menurut Yulianto, kondisi perberasan masih didonimasi kelompok tertentu yaitu pedagang dan tengkulak.
"Bapak saya dari lahir sampai meninggal jadi petani tidak pernah kaya. Petani dari dulu gitu-gitu aja dan yang jadi kaya itu tengkulak dan pedagangnya. Jadi pedagang jauh lebih cepat bisa kaya dibanding jadi petani," tambahnya.
Menurutnya. Petani harus bisa menjual langsung ke konsumen akhir. "Pangkas rantai distribusi. Petani harus bisa merangkap sebagai pedagang, pengangkut, pengumpul dan pengecer," imbuhnya.
Yulianto merupakan contoh petani sekaligus pedagang beras organik yang mampu memasarkan sampai ke konsumen akhir. Ia juga melakukan upaya pemberdayaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) supaya bisa mandiri.
"Saya praktikkan sendiri. Tiap hari ambil beras dari petani-petani antara 50-100 ton. Saya jual lebih murah dibanding pasaran tapi berusaha membeli di tingkat petani dengan harga lebih baik. Saya punya beberapa Gapoktan di Kebumen dan Karawang," jelasnya.
(hns/hns)











































