Ruang Udara Terbatas Jadi Masalah Utama di Sekolah Pilot Curug

Ruang Udara Terbatas Jadi Masalah Utama di Sekolah Pilot Curug

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 25 Nov 2015 16:57 WIB
Ruang Udara Terbatas Jadi Masalah Utama di Sekolah Pilot Curug
Tangerang - Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug di Kabupaten Tangerang, Banten membutuhkan tambahan wilayah udara untuk area training area atau ruang udara untuk latihan para calon pilot. Keterbatasan ruang udara ini menjadi masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Saat ini, sekolah pilot milik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ini hanya dijatah 5 training area sehingga aktivitas para calon penerbang saat membawa pesawat latih sangat terbatas. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi terganggu.

Kondisi ini makin tambah runyam ketika ada usulan ruang udara di Bandara Budiarto yang merupakan tempat latihan para siswa STPI Curug agar ditutup untuk ruang udara rencana pembangunan Bandara Lebak, Banten.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada ruang udara dikurangi tapi itu sudah limited. Nggak segampang itu masyarakat minta tutup Curug karena untuk buat baru harus siapkan ruang udara latihan, kemudian dia perlu tempat nyaman dan aman di bawah, serta nggak padat penduduk," Kata Direktur Keamanan Penerbangan, Ditjen Perhubungan Udara, Kemenhub, M. Nasir Usman usai acara Sidang Terbuka Senat Dalam Rangka Wisuda di STPI Curug, Tangerang, Banten, Rabu (25/11/2015).

Nasir menjelaskan Kemenhub telah menolak proposal Lion Group yang meminta Bandara Budiarto ditutup sebagai solusi keterbatasan ruang udara rencana pengembangan Bandara Lebak. Bandara Budiarto merupakan lokasi latihan siswa-siswa penerbang STPI.

"Itu perlu dikaji mendalam lagi (rencana Bandara Lebak) dan sudah ada info, nggak diizinkan. Itu memang kebijakan pemerintah," sebutnya.

Justru, STPI kini mengusulkan tambahan 12 training area di luar Curug. Tujuannya, STPI memiliki target menaikkan jumlah siswa per tahun dari 120 menjadi 200 siswa. Dengan rencana penambahan training area, proses latihan siswa bisa berjalan lancar.

Di tempat yang sama, Ketua STPI, Yudhi Sari Sitompul mengatakan akibat ruang udara terbatas yakni hanya 5 training area, proses pendidikan tidak bisa leluasa. Padahal seorang calon pilot membutuhkan jam terbang tertentu sebelum dinyatakan lulus. Sehingga, proses pencetakan lulusan pilot menjadi tertunda.

"Penerbang kami full di sini jadi tahun ini nggak buka. Kita buka kelas kalau pendidikan yang tengah (siswa yang sedang belajar) selesai," Yudhi.

(feb/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads