Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Hasil Sembiring mengungkapkan, banyak kalangan yang tidak percaya dengan kenaikan produksi beras yang sangat signifikan dalam setahun tersebut. Surplus sebesar itu, menurutnya, tak lepas usaha yang tak biasa dari kementeriannya saat ini.
"Kalau lihat datanya yang naiknya sekian juta ton beras dibanding 2014, memang banyak orang yang tak percaya. Kenapa bisa? Karena sopirnya beda," kata Hasil ditemui di kantornya, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta, Kamis (26/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibaratnya kendaraannya sama, CC-nya sama, tapi supirnya beda. Kalau supir lain ke Bogor pakai jalan belok-belok, supir yang sekarang pakai jalan tol," jelas Hasil.
Menurut Hasil, di awal tahun, Kementan langsung menggeber produksi beras lewat pembentukan tim upaya khusus (Upsus). Terobosan lainnya dilakukan dengan perubahan pola distribusi pupuk, serta pengadaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang tak lagi lewat proses tender.
"Ketika ada isu kekeringan, Tim Upsus kita Desember sudah bergerak. Nggak ada orang kita yang duduk-duduk di kantor. Pompa kita keluarin, saya pribadi keliling terus," ujarnya.
Menurut Hasil, tak ada yang ditutup-tutupi dengan data produksi beras baik oleh BPS, maupun yang dilakukan langsung oleh Dinas Pertanian di daerah.
"Karena Upsus otomatis produksi (gabah) naik. Tak ada data yang kita tutup-tutupi, kita sangat terbuka dengan data kita. Data BPS pun sudah diverifikasi oleh petugas kita di lapangan. Sekali lagi, supirnya beda, hasilnya juga beda," ucap Hasil.
Beberapa waktu lalu, BPS melaporkan produksi GKG nasional sebanyak 74,9 juta ton. Produksi GKG yang bisa dikonversi menjadi beras adalah sebanyak 41,9 juta ton beras. Kebutuhan beras dalam setahun sebesar 32,04 juta ton. Sementara, produksi beras Angka Tetap (ATAP) BPS tahun 2014 sebanyak 70,85 juta ton.
(rrd/rrd)










































