Dalam sidaknya, Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf melakukan pemantauan langsung pasokan beras di toko-toko beras besar di PIBK. Syarkawi kemudian berbincang di dengan sejumlah bandar beras di pasar tersebut.
Seorang pedagang yang ditemui Syarkawi, Sofiah mengungkapkan keheranannya dengan kelangkaan serta kenaikan harga beras medium di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau medium rata-rata Rp 9.000-an/kg. Tepatnya paling murah Rp 8.900-9.800/kg. Kita malah berlebih ini, soalnya ini lagi puncak panen, sudah ada yang panen dan masih terus lanjut panennya," ujar Sofiah.
Sofiah mengaku sempat mendengar ada berita kekurangan pasokan beras medium di Pasar Induk Cipinang (PIC) Jakarta Timur. Hal tersebut, menurutnya, tak masuk akal karena pasokan beras di Karawang masih berlimpah.
"Kalau pasokan malah banyakan kita. Lagi bagus-bagusnya petani di Jawa Barat, mungkin karena pengaruh kemarau lama atau apa saya kurang tahu," jelasnya.
Sofiah menuturkan, hampir semua beras di gudang pedagang besar di PIBK merupakan titipan petani dan penggilingan padi. Ia hanya mengambil komisi dari setiap beras yang dijual.
Seorang pemasok beras yang ditemui KPPU, Endang mengungkapkan dirinya menitipkan beras di toko milik Sofiah sejak sepekan lalu, namun belum juga laku terjual.
"Belum laku-laku ini saya bawa 10 ton. Karena produksi ini lagi tinggi-tingginya, satu hektar biasanya produksi padi 6-8 ton, sekarang 1 hektar bisa 9-10 ton. Jadi di Subang, Indramayu, Karawang lagi melimpah," kata Endang.
Apalagi, lanjut Endang, melimpahnya pasokan beras di PIBK juga datang dari penggilingan padi di Jawa Tengah.
"Lagi banyak jadi susah keluarnya (terjual). Di Kudus, Demak, atau Pati kan juga katanya lagi panen. Jadi beras yang medium lagi kebanyakan," jelas Endang.
(hen/hen)










































