Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, anjloknya suplai beras medium ini terjadi karena beras yang masuk ke pasar saat ini adalah hasil panen pada musim kemarau.
Gabah hasil panen gadu (panen di musim kemarau) memiliki kadar air rendah sehingga kualitasnya bagus, ketika digiling menjadi beras kualitas I dan II alias premium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kualitas beras yang diproduksi di Indonesia juga naik kelas berkat mekanisasi yang dilakukan oleh Kementan. Menurut Hasil, ribuan alat mesin pertanian (alsintan)β yang dibagi-bagikan tahun ini membuat produksi beras premium meningkat, di sisi lain beras medium menurun.
"Alsintan kita kan sudah banyak yang masuk. RMU (Rice Milling Unit/mesin penggiling padi) hampir 1.000 unit, combine harvester (alat pemotong padi) hampir 2.800, jadi kualitas beras yang diproduksi makin bagus," tuturnya.
Menurutnya, penurunan pasokan beras medium saat ini tak perlu dipermasalahkan karena bisa ditutup oleh peningkatan beras premium. Harga beras premium memang lebih mahal, tapi dirinya yakin tidak akan terlalu memberatkan masyarakat.
"Harganya (beras premium) nggak terlalu banyak berbeda lah dengan beras medium, beda harganya nggak sampai Rp 1.000/kg," pungkasnya.
Sebagai informasi, meski pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) masih terhitung normal karena di atas 3.000 ton per hari, namun harga beras kualitas III atau beras medium sudah melonjak hingga kisaran Rp 9.000/kg.
Di sisi lain, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyoroti persoalan ini, mereka menduga ada permainan oleh pedagang beras.
(hen/hen)











































