Salah satu syarat utama dari penyederhanaan mata uang rupiah atau redenominasi adalah perekonomian yang stabil. Ini yang menjadi hambatan redenominasi tidak berjalan pasca 2013 hingga sekarang.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai bila tahun depan gejolak perekonomian sudah mereda, maka program ini bisa dilanjutkan. Tentunya konsep redenominasi tidak jauh berbeda dari yang sudah direncanakan.
"Kalau mau dilakukan kunci suksesnya ekonomi harus stabil dan 2013 masih ada lanjutan krisis di Amerika Serikat (AS) sampai sekarang. Kalau nanti di tahun depan sudah membaik, bisa dimulai lagi," jelas Agus di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (1/12/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perlu ajukan kembali RUU mata uang, yaitu untuk penetapan satuan mata uang," kata Agus.
Sementara itu, konsultasi publik juga dilakukan secara komperhensif. Begitu juga dengan sosialisasi, sebab masyarakat harus mengerti dan paham praktek pelaksanaan redenominasi.
Ada juga masa transisi. Sebagai contoh, harga produk senilai Rp 10.000 akan ditulis dalam dua harga yaitu Rp 10.000 (rupiah lama) dan Rp 10 (rupiah baru). BI juga akan perlahan-lahan mengganti uang rupiah lama dan dalam kondisi rusak dengan uang rupiah baru.
"Jadi ketika Rp 10.000 menjadi Rp 10. Harga barangnya juga disesuaikan dari Rp 10.000 dengan Rp 10," tegas Mantan Menteri Keuangan tersebut.
(mkl/hns)











































