Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan kapal khusus angkutan ternak, KM Camara Nusantara I, mulai mengangkut sapi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 3 Desember 2015 mendatang. Kapal khusus pengangkut sapi ini mengangkut sapi dari Kupang NTT ke Jawa hingga memangkas rantai distribusi hingga 50%.
Amran menuturkan, kapal ternak berkapasitas 500 ekor sapi ini bisa memangkas ongkos angkut sapi dari NTT, yang sebelumnya Rp 2 juta per ekor, jadi hanya Rp 200.000 per ekor.
"Biayanya hanya Rp 200.000 bayangkan betapa murahnya itu dari awalnya Rp 2 juta. Ini langsung tindakan, kalau ini diseminarkan, didiskusikan, nggak bakal selesai," ujar Amran saat peluncuran Taman Sains Pertanian (TSP) di Balitbang Kementerian Pertanian, Cimanggu, Bogor, Selasa (1/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini supply chain yang panjang kita potong. Dari sebelumnya ada 8-10 rantai, sekarang tinggal 4 saja, semua bisa dilakukan kalau swasta, pemerintah, dan perguruan tinggi kerja sama," jelas Amran.
Amran melanjutkan, di perizinan angkutan sapi lokal, dirinya juga memangkas waktu perizinan karantina dari 2 bulan menjadi hanya satu minggu saja.
"Dulu sapi dari NTT, NTB, Sulsel, Jawa Timur sulit masuk Jakarta. Dua bulan izin, saya minta karantina mulai duluan yang di bawah saya. Dari 2 minggu saya minta mereka kerja 24 jam, jadi 2 hari selesai (izin). Saya minta juga Pangdam, gubernur, Kapolda di NTT itu mereka semua setuju," jelas Amran.
"Masa izin angkut sapi di NTT saja ada 13 izin sebelum di pelabuhan, harus cek darah segala macam. Katanya ini menghindari sapi curian, yah tapi masa harus 13 hari, dari Kades sudah cukup. Ini yang terjadi bukan penggemukan, tapi pengurusan," imbuhnya.
Sebagain informasi, KM Camara Nusantara 1 pengangkut sapi ini ditempatkan di Pelabuhan Tenau, Kupang sebagai pangkalan dengan rute trayek RT-1 untuk melayani rute Kupang-Bima-Tanjung Perak-Tanjung Emas-Cirebon-Tanjung Emas-Tanjung Perak-Bima-Kupang.
Ia memperkirakan harga daging sapi bisa ditekan, setelah kapal angkut khusus sapi mulai efektif beroperasi. Bahkan, menurutnya, dengan berbagai terobosan harga sapi lokal bisa lebih murah dari daging impor asal Australia.
"Harga Rp 30.000/kg di sana (Australia) sapi hidup. Sampai sini (Jakarta) jual harga Rp 70.000-80.000 /kg sudah untung, sekarang harga sapi Rp 100.000-120.000/kg, mahal karena supply chain terlalu panjang," kata Amran.











































