Namanya Black Friday dan Cyber Monday. Nah, pada hari Jumat sebelum Thanksgiving, warga AS akan mengantri di pusat perbelanjaan untuk memborong barang-barang dengan potongan harga sangat besar.
Lanjut di hari Senin, waktunya belanja barang-barang elektronik yang juga didiskon habis-habisan. Tak diduga, virus Black Friday dan Cyber Monday ini sampai juga ke China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia seperti tipikal warga AS yang menghambur-hamburkan uang saat liburan, hanya saja Andy adalah warga China dan tidak tinggal di AS. Ia memesan baju-baju tersebut via online memanfaatkan diskon liburan.
"Saya memang sering belanja online dari (toko di) AS," kata Andy dalam emailnya kepada CNN, Rabu (2/12/2015).
Belanja online kini mulai jadi pilihan saat liburan Thanksgiving, meski masih banyak juga yang rela antre dan berdesak-desakan di toko dan mal.
Selama lima hari libur Thanksgiving, total belanja online di AS menembus US$ 11 miliar (Rp 143 triliun). Pembeli dari China belanja US$ 55 juta (Rp 715 miliar) atau sekitar 0,05% dari total.
Hampir bertepatan dengan Black Friday, ada perayaan Singles Day di China. Pada saat itu banyak warga China yang sengaja berbelanja, baik secara langsung maupun online. Jadi ada kemungkinan pola belanja ini berlanjut tahun depan.
"Pengiriman barang ke China tidak rumit. Ada beberapa perusahaan logistik yang menyediakan layanan ke sini," kata Andy.
Cara kerjanya begini, ada gudang di AS yang sengaja menampung barang-barang yang dibeli konsumen China. Nah, hampir seluruh pesanan dari China akan dikumpulkan terlebih dahulu di tempat ini sebelum dikirim ke si pemesan.
Namun tidak semua pesanan dair China harus masuk ke gudang-gudang seperti ini. Peritel seperti Amazon dan Macy's bisa mengirim paket langsung ke China.
(ang/ang)











































