Sidak dilakukan di salah satu penggilingan milik gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Dusun Kepoh, Desa Bowan Kecamatan Delanggu, Klaten, Rabu (2/12/2015). Sidak gabungan ini dilakukan guna mengetahui secara pasti mengenai pasokan beras yang ada di tiap-tiap daerah. Sebelumnya KPPU juga memantau pasokan beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta Timur dan Karawang Jawa Barat.
Turut ikut dalam sidak itu diantaranya Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf, Wakil Ketua KPPU Kurnia Sarani, Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring, Ketua Deputi Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono dan staf ahli Kebijakan Pembangunan Kementan Hasanudin Ibrahim
.
Di Gapoktan Desa Bowan, rombongan ditemui langsung oleh pemilik penggilingan padi milik H. Srihadi. Rombongan langsung bertanya mengenai jenis padi yang dibudidayakan masyarakat sekitar, sistem penjualan dan distribusi beras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Srihadi kepada rombongan KPPU, Kementan dan BPS mengungkapkan padi yang ada di tempat penggilingan miliknya sebagian besar adalah milik anggota Gapoktan Desa Bowan Kecamatan Delanggu dan sekitarnya, Kapasitas mesin giling padi yang dipunyai juga tidak besar atau masih skala kecil lebih kurang 5 ton/hari.
"Sebagian besar beras dari sini kami jual atau diambil pedagang beras dari Yogyakarta dan Solo," kata Srihadi.
Sedangkan jenis tanaman padi yang dibudidayakan lanjut Srihadi adalah jenis Memberamo, Situ Bagendit dan Ciherang. Sekitar 80 persen hasil panen padi di wilayah Delanggu sebagian besar untuk konsumsi masyarakat sekitar terutama Solo dan Yogyakarta.
Menurutnya untuk lahan sekitar 2 ribu meter persegi pada masa panen bulan Agustus hingga November menghasilkan gabah kering sekitar 1,5 ton. Namun untuk daerah yang sistem pengairannya bagus, hasilnya bisa mencapai 1,8 ton. Harga jual beras jenis medium dijual dengan harga sekitar Rp 9.000-9.200/kg.
"Selain itu, hasil panenan juga tergantung oleh cuaca dan hama tikus dan wereng yang sering menyerang," katanya.
(bgs/hen)











































