Hadapi MEA, Ini Strategi Kementan Jaga Sektor Pertanian

Hadapi MEA, Ini Strategi Kementan Jaga Sektor Pertanian

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 04 Des 2015 18:45 WIB
Hadapi MEA, Ini Strategi Kementan Jaga Sektor Pertanian
Jakarta -

Mulai 1 Januari 2016 mendatang, Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Di era MEA, arus barang dan jasa diantara negara-negara anggota ASEAN plus China, Korea Selatan, dan Jepang akan makin bebas karena hambatan tarif semakin dihilangkan.

Barang-barang impor‎ dari negara-negara peserta MEA‎ akan semakin mudah masuk ke Indonesia. Sebaliknya, barang-barang Indonesia juga bakal menikmati tarif nol ke negara-negara peserta MEA.

Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan strategi untuk melindungi sektor pertanian. Instrumen yang akan digunakan untuk membendung serbuan produk pertanian impor bukan lagi tarif, tapi standar kualitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, usaha pertanian di Indonesia akan didorong untuk seefisien mungkin agar bisa menghasilkan produk yang harganya terjangkau.‎ Dengan begitu, produk pertanian Indonesia bisa bersaing karena harganya terjangkau dan kualitasnya memenuhi standar.

"Kalau 10-15 tahun lalu, kita membendung impor itu dengan tarif yang tinggi. Tapi sekarang kan tarif mengarah ke nol semua. Jadi kita membendungnya di harga dan kualitas," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Gardjita Budi, usai pertemuan dengan para eksportir buah di Kementan, Jakarta, Jumat (4/12/2015).

Dia menambahkan, produk-produk Indonesia pun ke depan bakal semakin banyak dihambat dengan alasan standar kualitas oleh negara-negara lain‎.

"Kita bisa mencekal suatu negara dengan alasan kualitasnya tidak memenuhi standar. Begitu juga kita ekspor bisa dicekal dengan mudah kalau kualitasnya tidak sesuai standar," ucapnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, produk-produk pertanian Indonesia harus berkualitas tinggi. Karena itu, Kementan kini semakin mendorong penerapan Good Agricultural Practices‎ (GAP) untuk pertanian di dalam negeri. Dengan praktik pertanian yang tepat, produk pertanian Indonesia akan semakin berdaya saing dan mudah melakukan penetrasi ke pasar di negara-negara lain.

"Jadi pendekatan sekarang adalah tidak hanya memproduksi besar-besaran tapi juga tingkatkan kualitas dengan Good Agricultural Practices. Tidak hanya memupuk dan memberi pestisida, tapi juga harus benar. Kalau tidak benar rugi sendiri. Itu sudah kita lakukan supaya produksi lebih baik," tutupnya.



(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads