"Tahun 2015 ini paling tidak, memang tidak bisa dikatakan sebagai krisis, tapi tahun yang berat dan memang kurang cerah," kata Bambang dalam acara investor gathering di Gedung Dhanapala, Jakarta, Senin (7/12/2015)
Faktornya tidak terlepas dari rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Rencana tersebut sudah disampaikan sejak 2013 lalu, akan tetapi baru dimungkinkan terealisasi pada pertengahan Desember 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya adalah masalah ekonomi China. Negeri Tirai Bambu tersebut, sudah tidak lagi mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 10%. Sejak 2012, masa perlambatan sudah tampak, namun paling rendah terjadi di 2015.
"Mulai ada polanya sejak beberapa tahun lalu, tapi di bawah 6% baru sekarang, makanya dampaknya paling terasa di sekarang," ujar Bambang.
Dari sisi harga komoditas, juga semakin memburuk. Khususnya yang bersumber dari sektor perkebunan dan pertambangan, seperti batubara, nikel, tembaga, crude palm oil (CPO) dan lainnya. Begitu juga dengan harga minyak.
"Harga komoditas dari 2012, tapi paling rendah baru sekarang. Harga minyak juga sama titik terendahnya itu terjadi di 2015. Jadi tahun 2015 adalah tahun yang kurang cerah dan dampaknya langsung terasa ke perekonomian kita," paparnya.
Diketahui sampai dengan kuartal III-2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,73% dan akhir tahun diproyeksi hanya berkisar 4,8%. Berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu yang selalu tumbuh di atas 5%.
(mkl/ang)











































