Tom Lembong: Negara yang Proteksionis Tak Maju-maju

Tom Lembong: Negara yang Proteksionis Tak Maju-maju

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 07 Des 2015 15:16 WIB
Tom Lembong: Negara yang Proteksionis Tak Maju-maju
Jakarta - Kebijakan-kebijakan Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong dinilai oleh banyak pihak terlalu 'liberal' karena dianggap mempermudah barang impor masuk pasar domestik. Di sisi lain, ada pendapat bahwa kebijakan proteksionis justru membuat sebuah negara tak bisa maju.

Baru menjabat sejak Agustus lalu, Lembong sudah dibanjiri protes karena menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu (Permendag 87/2015) dan Permendag Nomor 70 Tahun 2015 tentang Ketentuan Label (Permendag 70/2015).โ€Ž Lembong juga mendorong Indonesia bergabung dalam perjanjian perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP).

Lembong mengatakan kebijakan-kebijakannya yang dianggap liberal itu sudah sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Barang impor tidak dihalang-halangi agar ada kompetitor untuk produk lokal, dengan begitu produk lokal didorong untuk menjadi lebih baik, lebih kompetitif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pak Jokowi itu mencintai produk lokal seperti bapak sayang kepada anaknya, tapi bukan dengan memanjakan anaknya. Kalau kita lihat dalam 30 tahun terakhir, justru negara yang membuka diri yang maju, yang ada persaingan antara produk lokal dan impor.โ€Ž Negara yang proteksionis tidak maju-maju, jalan di tempat saja," ujar Lembong dalam Apindo CEO's Gatherhing di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (7/12/2015).

Ia menambahkan, tentunya industri-industri di dalam negeri juga harus dipersiapkan agar siap bersaing dengan produk-produk asing di pasar bebas. Namun, persiapan ada batas waktunya, pada saatnya nanti siap atau tidak siap Indonesia harus membuka pasarnya lebar-lebar.

โ€Ž"Kita membuka diri bukan mendadak, tentu bertahap, perlu banyak sekali pembenahan. Tapi di sisi lain harus ada deadline. Infrastruktur, listrik, regulasi, banyak sekali PR (pekerjaan rumah) yang harus kita kerjakan. โ€ŽHarus kita kerjakan, nantinya ready or not pasar harus kita buka," katanya.

Menurutnya, pasar bebas bukan sesuatu yang harus ditakuti. Indonesia pun sebenarnya sekarang sudah memasuki pasar bebas ASEAN meski Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) baru resmi dimulai pada 1 Januari 2016.

"MEA sebenarnya sudah mulai 2 tahun lalu. Tapi ekonomi Indonesia masih oke, dan saya yakin ke depan akan baik-baik saja," tutupnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads