Spekulasi Merajalela, Harga Minyak Tembus US$ 55/barel

Spekulasi Merajalela, Harga Minyak Tembus US$ 55/barel

- detikFinance
Jumat, 04 Mar 2005 09:59 WIB
Jakarta - Aksi spekulasi yang semakin merajalela dalam perdagangan di pasar minyak mentah dunia akhirnya memicu kenaikan kembali harga minyak dunia hingga ke level US$ 55 per barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Di pasar Nymex atau New York Mercantile Exchange untuk harga minyak April sempat naik US$ 2,15 menjadi US$ 55,2 per barel. Level tertinggi yang pernah dicapai adalah US$ 55,67 per barel pada 25 Oktober lalu. Namun selanjutnya harga minyak ini ditutup surut ke level US$ 53,57 per barel atau naik 52 sen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara untuk minyak jenis Brent juga mencapai rekor tertingginya hingga US$ 53 per barel di pasar London karena keprihatinan soal suplai. Minyak Brent akhirnya ditutup naik 73 sen ke level US$ 51,95 per barel.Analis mengaku bahwa sebenarnya tidak ada berita spesifik yang memicu lonjakan harga minyak itu. Namun para pialang memprihatinkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan membutuhkan minyak lebih banyak untuk menyokongnya. Sayangnya, permintaan yang melonjak ini tidak diantisipasi oleh OPEC yang tetap menjaga suplai tetap ketat. Para pialang menuding aksi spekulasi dibalik melonjaknya harga minyak dunia ini. "Spekulasi makin merajalela," kata analis dari Fimat di AS, Mike Fitzpatrick seperti dilansir AFP, Jumat (4/3/2005)."Ada aksi pembelian spekulatif untuk mengantisipasi pertemuan OPEC 16 Maret nanti. Ada ketakutan bahwa suplai dunia tidak mencukupi permintaan dunia. Dan sampai pertemuan OPEC nanti, tren kenaikan ini akan terus berlanjut," kata Jason Schenker dari Wachovia Securities. Sementara pialang dari Bache Financial, Christopher Bellew menambahkan, faktor lain yang diperkirakan memicu kenaikan harga minyak adalah penurunan cadangan gas alam AS dan juga komentar dari salah seorang pejabat OPEC bahwa harga minyak akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Sebelumnya, Sekjen OPEC Adnan Shehab-Eldin mengatakan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak hingga US$ 80 per barel dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Namun level tersebut tidak akan bertahan lama. "Saya tegaskan bahwa harga minyak hingga ke level US$ 80 per barel hanyalah sebuah kemungkinan kecil. Namun saya tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa harga minyak bisa menembus level US$ 80 per barel dalam dua tahun ke depan," ujar Adnan Shehab-Eldin seperti dikutip Koran Kuwait Al-Qabas. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads