RI Masih Impor Tepung Ikan dari Peru dan Cile

RI Masih Impor Tepung Ikan dari Peru dan Cile

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 08 Des 2015 17:35 WIB
RI Masih Impor Tepung Ikan dari Peru dan Cile
Jakarta - Meski produksi ikan melimpah, namun sebagian besar kebutuhan tepung ikan (fish meal) masih diimpor. Tepung ikan ini dipakai untuk bahan baku pelet untuk pakan ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengungkapkan, dalam beberapa tahun ke depan Indonesia masih tergantung pada impor tepung ikan. Impor ini masih terjadi karena masih sedikitnya sertifikasi tepung ikan lokal.

"Kenapa industri pakan ikan masih impor terus bahan bakunya? karena sedikit sertifikasi untuk produk tepung ikan. Tepung ikan kita buat ikan dan udang untuk ekspor, kalau produk ekspor itu harus tracebility (terlacak). Misal ini udang ilegal apa tidak ? pakannya benar apa tidak? karena kalau ekspor harus resmi sejak dari pakannya," jelas Slamet ditemui di kantor KKP, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (8/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain persoalan sertfikasi, lanjut Slamet, impor tepung ikan masih marak karena pasokan produksi tepung ikan lokal masih kurang.

Sementara itu, Ketua Divisi Pakan Aqua Culture Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Denny Indrajaja mengatakan, impor tepung ikan terbesar berasal dari Peru dan Chile. Meski kaya ikan, tak semua ikan bisa diproses menjadi tepung ikan dengan kualitas tinggi.

"Kenapa Peru dan Cile produsen tepung ikan terbesar, karena laut mereka ada pertemuan arus dingin dan hangat, makanya wajar produksi ikan anchovi yang khsusus untuk tepung melimpah. Kita sebenarnya punya ikan lemuru, tapi fluktuatif karena musiman," ujar Danny.

Kendati demikian, sambungnya, impor tepung ikan bisa terus menurun seiring meningkatnya produksi tepung ikan lokal.

Data KKP menyebut, produksi tepung ikan dalam negeri tahun ini sebesar 139.459 ton, sementara kebutuhan mencapai 211.000 ton. Tahun 2016, KKP menargetkan produksi tepung ikan mencapai 166.241 ton.

Di tahun 2010 impor mencapai 39.262 ton, 2011 mencapai 75.148 ton, 2012 mencapai 65.793 ton, 2013 mencapai 60.000 ton, dan 2014 mencapai 50.000 ton.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads