Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hanya sepakat untuk menetapkan impor sapi indukan sebanyak 25.000 ekor, walaupun sifatnya belum fix. Sementara Kementan meminta tambahan menjadi 35.000 ekor dari usulan semula sebesar 500.000 ekor.
"Itu kesepakatan dengan DPR 25.000, termasuk untuk bantu SPR (sentra peternakan rakyat). Tapi di pembahasan rapat pimpinan di kementerian maunya 35.000 sapi. Kita masih berjuang, kan belum selesai," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Muladno Bashar dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (9/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Asumsinya satu ekor sapi Rp 22 juta. Itu sudah termasuk pakan, pemeliharaan selama pengapalan, dan biaya angkut," jelasnya.
Sementara untuk pengadaan sapi indukan tahun ini, lanjut Muladno, juga dipastikan masih seret karena kendala tekhnis seperti proses lelang yang juga belum rampung dari target awal sebanyak 35.000 ekor sapi.
"Kita usahakan 11.000 bisa tercapai sampai akhir tahun. Kan masih diusahakan terus," pungkasnya.
Sebagai informasi, βpopulasi sapi di Indonesia saat ini hanya sekitar 12,36 juta ekor, menyusut lebih dari 3 juta ekor dalam 3 tahun. Pada 2012 populasi sapi di Indonesia masih 15,98 juta ekor.
βTingkat konsumsi daging sapi di Indonesia pada 2015 ini 2,56 kg/kapita/tahun. Dengan jumlah penduduk 255 juta jiwa, total kebutuhan daging sapi mencapai 653.000 ton atau setara dengan 3,8 juta ekor sapi per tahun.
Menurut perhitungan di atas kertas, pasokan sapi lokal hanya mampu memenuhi 2,44 juta ekor per tahun atauβ setara dengan 416.000 ton, atau 60% kebutuhan daging sapi di dalam negeri. Indonesia membutuhkan banyak sekali sapi indukan untuk meningkatkan populasi sapi dan mencapai swasembada daging sapi.
(drk/drk)











































