Sensus Ekonomi 2016, BPS Juga Survei Bisnis Online

Sensus Ekonomi 2016, BPS Juga Survei Bisnis Online

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 10 Des 2015 12:53 WIB
Sensus Ekonomi 2016, BPS Juga Survei Bisnis Online
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) akan menggelar sensus ekonomi mulai Mei 2016. BPS mulai mensosialisasikan program sensus melalui kampanye Ayo Sukseskan Sensus Ekonomi 2016.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, sensus ekonomi ini akan menyasar semua sektor ekonomi kecuali sektor pertanian. Dengan objek survei mencakup badan usaha, rumah tangga, dan sektor ekonomi desa.

"Kita dulu punya terget 2 macam, rumah tangga dan badan usaha. Di survei 2016, kita tambahkan desa, jadi kita bisa petakan ekonomi di desa lewat kepala desa," kata Suryamin acara peluncuran sensus ekonomi di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (10/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suryamin melanjutkan, sensus ekonomi mencakup hampir semua informasi soal ekonomi antara lain omzet usaha, jumlah tenaga kerja, upah, skala usaha, pertumbuhan, dan data lainnya yang dianggap komprehensif.

"Kurang dari 5 bulan lagi BPS akan lakukan pendataan lengkap. Sisir semua ushaa dari rumah ke rumah seluruh Indonesia, dari skala, size omzet, dan data lainnya," kata Suryamin.

Menurut Suryamin, pihaknya sudah mempersiapkan sensus 2016 sejak 2 tahun lalu. Hal ini mengingat banyak perubahan struktur ekonomi sejak 10 tahun terakhir.

"Persiapan teknis sejak 2014. Dari studi-studi dan persiapan agak lama. Selain itu, ada sektor ekonomi baru kayak online, atau usaha tapi tak ada papan namamya. Artinya banyak kegiatan ekonomi yang kegiatannya sulit dilacak, aktivitas ekonominya kasat mata," ujar Suryamin.

Sensus Ekonomi akan digelar sebulan penuh pada bulan Mei sementara hasilnya akan dirilis pasca 6 bulan survei. Hadir dalam acara sosialisasi tersebut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Perempuan Nita Yudi.

Β 

Ia mengatakan berdasarkan pengalaman sensus ekonomi sebelumnya, kalangan pengusaha jadi yang paling sering 'golput', atau paling susah disensus oleh petugas BPS.

"Yang kami rasakan selama ini, paling sulit dan semakin tambah sulit saat ini itu adalah pengusaha. Padahal, datanya itu bukan buat BPS, data kami sampaikan untuk semua stakeholder," ujar Suryamin.

Dalam kerumitan proses sensus ekonomi, Suryamin mengibaratkan seperti proses pemilihan kepala daerah (Pilkada). Artinya, meski sudah dipersiapkan matang, angka 'golput' bisa tetap tinggi karena kesadaran masyarakat masih rendah.

"Persiapan teknis sehebat dan selama apa pun, itu bisa banyak yang tidak ikut partisipasi. KPU (komisi pemilihan umum) kabupaten kota persiapan sudah sangat baik, tapi hari-H ternyata tak ada yang datang ke TPS karena golput, demikian juga dengan sensus," jelas Suryamin.

Menurut Suryamin, pihaknya menetapkan satu bulan untuk melakukan survei dan pendekatan pada pelaku usaha yang akan dijadikan sampel.

"Jadi saya imbau pengusaha kasih data, dan data yang benar jangan bohong. Kita jaga kerahasiaan data, karena nggak akan kita pamerkan data individu, tidak akan diketahui pesaing," katanya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads