Ini Modal RI untuk Jadi Negara Maju

Ini Modal RI untuk Jadi Negara Maju

Maikel Jefriando - detikFinance
Kamis, 10 Des 2015 14:00 WIB
Ini Modal RI untuk Jadi Negara Maju
Bali -

Perekonomian Indonesia sepanjang sejarah tidak pernah berjalan mulus, selalu naik turun hingga sekarang. Meski saat ini kondisi perekonomian sedang melambat, namun ada potensi besar bagi Indonesia untuk tumbuh tinggi dan menjadi negara maju.

"Ekonomi Indonesia itu bergerak naik turun, selalu ada tantangan dan kita selalu yakin, potensi ekonomi tumbuh tinggi itu selalu ada," ujar Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara dalam acara Forum Internasional Ekonomi dan Kebijakan Publik di Hotel Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12/2015)

Suahasil menceritakan perjalanan ekonomi Indonesia sejak 1970 hingga sampai sekarang. Ia menjelaskan dari periode 1970 sampai dengan 1997, rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7,1%. Ada beberapa kejadian besar yang mempengaruhi, seperti pada 1974 dan 1979 saat lonjakan harga minyak dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia yang merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia mendapatkan dampak positif dengan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Begitu juga ketika harga minyak dunia jatuh di 1982, perekonomian Indonesia langsung menurun.

Dalam periode 1988 hingga 1996 perekonomian bergerak datar, sampai pada akhirnya di 1997-1999 ada krisis moneter Asia yang juga cukup parah melanda Indonesia. Pasca krisis, perekonomian Indonesia ditata kembali. Dari posisi negatif, ekonomi bergerak tumbuh hingga level 5%. Rata-rata dari 2001 hingga 2014, ekonomi mampu tumbuh sebesar 5,4%.

Meskipun pada beberapa titik ada tekanan yang cukup besar. Misalnya saat gejolak pasar keuangan pada 2008 dan berlanjut kepada tahun 2012 dengan berakhirnya masa lonjakan harga komoditas. Komoditas menjadi penopang ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

Indikator besarnya potensi Indonesia, kata Suahasil terlihat jelas dari besarnya kapasitas ekonomi di Asia Tenggara. Kemudian secara geografis, Indonesia berada pada area strategis perdagangan dunia dan populasi masyarakat yang mencapai 252,2 juta orang atau empat terbesar di dunia dengan mayoritas berusia produktif.

"Potensi sumber daya alam Indonesia juga masih besar, dan bila itu diolah tentunya akan menghasilkan nilai ekonomi yang cukup besar untuk negara," jelasnya

Potensi tersebut telah didorong oleh berbagai kebijakan oleh pemerintah. Diawali dengan reformasi fiskal di bidang penerimaan, khususnya pajak. Rasio pajak yang masih sangat rendah harus dibenahi, seperti memperluas basis pajak, meskipun butuh waktu yang cukup panjang.

Paling signifikan memang tampak dari belanja. Anggaran subsidi energi yang sangat besar berhasil dipangkas, dan dialihkan kepada belanja yang lebih produktif seperti infrastruktur. Setidaknya, ada Rp 300 triliun anggaran yang dihabiskan untu Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik yang dinilai tidak tepat sasaran.

"Selain itu, kita juga brkomitmen untuk menciptakan makro ekonomi yang stabil sehingga tidak begitu saja mudah terkena gejolak perekonomian," tegas Suahasil.

Dalam skenario beberapa lembaga Internasional, Suahasil menyatakan pendapatan per kapita bisa mencapai US$ 12.736 pada 2030, dari posisi sekarang yang hanya sebesar US$ 3.630. Asalkan mampu tumbuh dengan rata-rata 8% dari 2015-2030.

Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,1%, maka angka per kapita tersebut baru bisa diraih pada 2035. Sedangkan dengan rata-rata 5,8% lebih lambat 5 tahun atau pada 2040.

"Jadi bukan tidak mungkin, Indonesia bisa mencapai pertumbuhan tinggi dan menjadi negara maju," imbuhnya.



(mkl/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads