Upah Buruh Naik, Laba Swalayan Internasional Ini Bakal Merosot

Upah Buruh Naik, Laba Swalayan Internasional Ini Bakal Merosot

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 11 Des 2015 16:40 WIB
Upah Buruh Naik, Laba Swalayan Internasional Ini Bakal Merosot
Foto: Reuters
Jakarta - Saham perusahaan ritel raksasa dunia, Walmart, kembali terperosok, setelah perusahaan mengeluarkan prospek kinerja perseroan yang mengecewakan.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menekan angka penjualan Walmart dan kenaikan upah karyawan di tahun depan berpotensi akan memangkas keuntungan perusahaan.

Saham Walmart (WMT) anjlok 10% ke level terendah dalam 3 tahun terakhir. Itu merupakan persentase kerugian terburuk sejak tahun 1988.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Keuangan Walmart Charles Holley mengatakan, kenaikan upah buruh akan menurunkan laba operasional sekitar US$ 1,5 miliar di tahun fiskal 2017.

Terkait hal itu, Holley memperkirakan, pendapatan perusahaan di tahun ini akan menurun sekitar 6%-12%. Holley beraharap, pendapatan perusahaan akan tumbuh kembali di tahun 2019.

Kondisi Walmart saat ini dalam keadaan tertekan akibat peningkatan upah karyawannya yang mencapai 600.000 pekerja di tahun ini.

Beberapa kota dan negara telah menerapkan kenaikan upah minimum.
Tak hanya Walmart, upah buruh yang tinggi ini juga menjadi tekanan bagi perusahaan seperti Target (TGT) dan McDonald (MCD).

Seorang perwakilan dari serikat buruh mengatakan, Walmart menjadikan kenaikan upah para buruh sebagai alasan memburuknya kinerja perseroan.

"Walmart harusnya malu menjadikan kenaikan upah buruh sebagai alasan menurunnya kinerja mereka," kata Jess Levin, juru bicara Serikat Pekerja Food & Commercial International Union seperti dilansir CNN, Jumat (11/12/2015).

Dan memang benar bahwa Walmart memiliki kekhawatiran yang besar akibat tingginya pembayaran upah buruh. Angka penjualan Walmart mulai lamban karena persaingan ketat dari para kompetitornya seperti Target, Costco (COST) dan Amazon (AMZN, Tech30).

Walmart juga berinvestasi besar untuk mencoba mengejar ketinggalan dari bisnis online. Investasi tersebut tentu masih akan menekan keuntungan dalam jangka pendek.

Brian Yarbrough, analis Edward Jones, menambahkan bahwa masalah yang lebih besar untuk Walmart adalahmereka juga akan kehilangan lahan untuk supermarket seperti Kroger (KR).

Lebih dari 55% dari keseluruhan penjualan Walmart berasal dari bisnis ritelnya. Tapi Yarbrough berpendapat bahwa Walmart tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang nyaman dan terjangkau untuk jaringan supermarket.

"Pelanggan tidak lagi membeli bahan makanan di sana. Bagaimana Walmart memperbaikinya? Mereka berada dalam posisi yang sangat sulit. Sulit untuk membawa pelanggan baru," jelas dia.

Kinerja Walmart tersebut berdampak buruk pada bisnis di sektor sejenis. Misalnya saja saham Target turun lebih dari 4%, sementara Kohl (KSS), Sears (SHLD) dan JCPenney (JCP) juga ikut merosot.

Belanja konsumen stagnan di bulan September, dan angka penjualan ritel Agustus direvisi lebih rendah.

Walmart juga berencana untuk membeli kembali (buyback) saham senilai U$ 20 miliar. Namun, itu tidak cukup untuk mengimbangi kerugian perusahaan.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads