Perancis Tawarkan Konversi Utang RI dengan Saham BUMN
Jumat, 04 Mar 2005 14:45 WIB
Jakarta - Perancis menawarkan program debt swap atau konversi utang dalam bentuk debt swap to equity kepada Indonesia. Dalam program ini Perancis akan memberikan potongan utang dengan imbalan penyertaan di sejumlah BUMN. "Perancis sedang kita persiapkan dalam bentuk debt swap to equity. Mereka memberikan potongan utang atau penghapusan sebagian utang, kemudian imbalannya mereka punya penyertaan modal di BUMN kita," kata Dirjen Perbendaharan Negara Depkeu Mulia P Nasution di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (4/3/2005).Mulia menjelaskan, sejauh ini rencana debt swap to equity itu masih dalam penjajakan sehingga belum diketahui BUMN mana saja yang diharapkan ada penyertaan modal Perancis. "Tentunya harus dibicarakan apakah mereka minta BUMN strategis. Tapi yang jelas menurut mereka ada nilai tambahnya baik dari segi teknologi dan pemasaran," kata Mulia. Di tempat yang sama, Meneg BUMN Soegiharto ketika dikonfirmasi mengenai debt swap dalam bentuk penyertaan di BUMN mengaku masih akan meneliti. "Saya akan teliti. Saya belum baca ada usulan dari Perancis seperti itu," kata Soegiharto.Namun usulan debt swap to equity dari Perancis tersebut dibantah Menko Perekonomian Aburizal Bakrie. Menurut Aburizal, dalam pembicaraan dirinya dengan pemerintah Perancis hari ini hanya membicarakan program debt swap dalam bentuk debt to again investment senilai US$ 65 juta. Aburizal membantah debt swap yang dilakukan dalam bentuk penyertaan di BUMN. "Tidak ada. Mereka tidak minta itu," tegas Aburizal.Ia menegaskan, debt swap yang akan diminta adalah untuk investasi. "Jadi mereka bilang mana yang kamu perlu. Misalnya kita perlu jalan kereta api, tapi duitnya tidak punya karena harus bayar utang, mereka bilang kita tidak harus bayar utang, tapi bikin jalan kereta api," katanya. Selain membicarakan debt swap, menurut Aburizal, Perancis juga menyatakan ketertarikannya untuk investasi di Indonesia dalam bidang air minum, pembangkit listrik maupun migas. Ketertarikan Perancis karena saat ini kondisi Indonesia cukup stabil termasuk peringkat yang jauh lebih baik dan juga telah dikeluarkannya Indonesia dari daftar negara yang tidak kooperatif dalam pencucian uang.
(qom/)











































