Hal tersebut seperti diungkapkan Kasubdit Pangan Kementrian Perindustrian, Dzunaidi, di acara seminar nasional gula kelapa, di Hotel Horison, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (17/12/2015).
"Untuk produksi per hari saja gula semut asal Banyumas itu sekitar 250 ton, kalau Filipina itu sektar 7-8 ton per hari. Sedangkan untuk ekspor itu gula semut asal Banyumas sekitar 3.000 ton per tahun, lalu Kulonprogo 2.500 ton per tahun," kata Dzunaidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 31.500 industri kecil menengah di Banyumas, merupakan produsen gula kelapa, rata-rata mereka terhambat sertifikasi. Di Indonesia hanya sekitar 5% saja yang sudah mengantongi setifikat berstandar internasional.
"Kita belum mampu, karena dana pemerintah terbatas. Makanya harus bekerja sama dengan kementrian yang lain, selama ini kita memang masih belum mampu dan masih mengandalkan dari bantuan NGO, kalau dibebankan ke petani ya berat, setiap tahun harus sertifikasi organik Rp 150 juta per kelompok per tahun," ungkapnya.
Sementara menurut Andrianto, Asisten Deputi Urusan Kemitraan, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengatakan, jika pihaknya terus melakukan pendampingan kepada produsen dan koperasi agar gula semut bisa berstandar organik Internasional, jadi bukan hanya pembiayaan, tapi juga pendampingan melalui konsultan dari awal hingga mendapatkan sertifikasi.
"Kalau sudah bicara food security saat kita masuk pasar globa itu yang pertama ditanyakan sertifikat. Nah untuk mendapatkan sertifikat ini tidak murah, makanya kalo bisa si buyer ini ikut bantu donk, masa Rp 150 juta pertahun hanya dibebankan ke produsen, tidak fair dong, kan yang menikmati para buyer, sepertinya buyer Eropa itu mau, karena mereka sudah mendapatkan keuntungan," ujarnya.
(arb/rrd)











































