BI memperkirakan inflasi tahun ini akan berada di bawah 3% dan Current Account Deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan di bawah 2%. Dua indikator ini menjadi pertimbangan BI untuk menyesuaikan tingkat suku bunganya di tahun depan.
"Penyesuaian bisa melalui suku bunga, bisa melalui kuantitatif, kuantitaif kita lakukan dengan penyesuaian GWM. Inflasi sekarang sudah cukup, global kan cukup yakin, pelonggaran semakin terbuka," ujar Juda Agung, Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi global, tadi jam 3 pagi Fed mengumumkan Fed fund rate, selama perdagangan transaksi valas, kenaikan Fed seperti sudah kita duga dan di price in oleh pasar, kita mengalami penguatan, respon pasar global positif," terang dia.
Untuk tahun 2016, Juda menyebutkan, BI akan melihat perkembangan keputusan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) terhadap arah suku bunga acuannya.
"Kira-kira tahun depan Fed fund rate ada di kisaran 100 bps, kalau kita lihat akan naik lagi berkisar 50-75 bps," sebut dia.
Perkembangan-perkembangan itu, lanjut Juda, menjadi salah satu pertimbangan untuk meyakinkan BI bahwa ruang kebijakan moneter ke depan semakin terbuka.
"Kita lihat ke depan," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menambahkan, selain soal inflasi dan CAD, kondisi global juga harus tetap diperhatikan dalam menentukan arah kebijakan BI ke depan.
"Salah satu hal kan kita harus cermati respon pasar keuangan global, meskipun kondisinya smooth. Kita harus hati-hari, kita sampaikan ruang pelonggaran semakin terbuka, tapi BI tetap harus kendalikan inflasi dan nilai tukar," pungkasnya.
(drk/hns)










































