Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai reaksi yang dibayangkan hanya tinggal mitos. Artinya semua pihak sudah memperkirakan jauh hari sebelumnya berupa antisipasi. Maka tidak heran jika pasar keuangan tak mengalami gejolak.
"Sebetulnya memang sudah di price in. Sehingga perubahan bunga The Fed cuma tinggal mitos. Orang-orang, investor sudah meng-adjust dirinya sendiri sebelum ini," ujarnya saat bincang-bincang di Hotel Aryaduta, Tanggerang, Kamis malam (17/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya kan mau naik atau tidak semua berspekulasi. Rencana mau naik terus batal, semua di dunia bergoyang-goyang dibikinnya, batal lagi. Sampai kemudian naik, seluruh dunia tidak ada pergerakan yang signifikan dengan kenaikan dan 25 bps saja," paparnya.
Darmin menuturkan, perjalanan kenaikan suku bunga tersebut memang sudah tercium sejak 2013 lalu. Saat kebijakan moneter AS yaitu quantitative easing dihentikan. AS memberikan sinyal beberapa kebijakan yang akan diluncurkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.
"Karena ini juga mengandung risiko kalau diteruskan AS juga tidak punya pilihan. Harus cari moment keluar dari situasi tersebut. Maka 2013 sudah mencari momentum untuk keluar. Tapi nggak bisa, dia takut begitu dilakukan, ekonominya drop lagi," paparnya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata angka inflasi dan pengangguran mengalami cukup perbaikan. Sehingga keputusan kenaikan akhirnya diumumkan pada Desember 2015.
"Satu dua kuartal ini apa yang indikator yang dipakai adalah penyerapan tenaga kerja dan inflasi. Inflasi seperti apa, kenapa harus naik itu menandakan ekonominya menggeliat. Pengangguran juga semakin berkurang artinya ekonominya cukup membaik," terang Darmin.
Apa tantangan Indonesia selanjutnya?
Darmin mengatakan tantangan selanjutnya adalah tahapan kenaikan suku bunga acuan AS. Sebab ada perkiraan dalam setahun ke depan, kenaikan akan mencapai 100 basis poin dan dilakukan secara bertahap. Begitu pun tahun selanjutnya sampai dengan 2018.
"The Fed rapat 1,5 bulan sekali, jadi totalnya 8 kali setahun. Jadi rata-rata setiap dua kali rapat dinaikan. Kalau situasinya baik-baik saja," tegasnya.
Hal ini akan memberikan tekanan terhadap negara-negara berkembang. Khususnya yang masih bermasalah dengan defisit transaksi berjalan yang tinggi.
"Artinya ada keadaan tekanan terutama di negara-negara yang transaksi berjalannya defisit, ada tekanan yang terus menerus dan bisa berlangsung sampai 2018-2019 walaupun dia pasti tidak akan menaikan sekaligus 1% setahun, mungkin dibagi empat," terang Darmin.
Oleh karena itu, Darmin menekankan agar kondisi jangka menengah harus menjadi perhatian. Terutama dalam mengelola pertumbuhan ekonomi dan defsiti transaksi berjalan.
"Perlu betul dijaga adalah tendensi jangka menengah. itu bisa dijawab dengan perkembangan ekonomi yang jelas. Kalau ekoomi kita malah tersendat pertumbuhannya, sementara transaski berjalan juga defisitnya melebar. ya hancur," kata mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut.
(mkl/ang)











































