Ini Penampakan Terkini Proyek Tol Cisumdawu

Ini Penampakan Terkini Proyek Tol Cisumdawu

Dana Aditiasari - detikFinance
Jumat, 18 Des 2015 18:39 WIB
Ini Penampakan Terkini Proyek Tol Cisumdawu
Sumedang -

Satu lagi proyek pembangunan infrastruktur di luar Jakarta kembali menampakkan perkembangan yang menggembirakan. Kali ini adalah proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 60,5 Km.

Perkembangan paling menonjol tampak di pembangunan seksi II dari 6 seksi yang ada. Pantauan detikFinance, sebagian titik di seksi I Tol Cisumdawu sepanjang 12,025 km dari Cileunyi-Rancakalong sudah pembetonan.

Pekerjaan Seksi II Tol Cisumdawu ini sendiri terbagi dalam dua Fase yakni Fase I sepanjang 10 km dan Fase II sepanjang 6,3 km. Data dari Direktorat Jenderal Binamarga Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, perkembangan fisik di seksi II fase I telah mencapai 72,6%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Fisik sudah 72,6%, lahan sudah 93%. Itu yang seksi II fase I," terang Direktur Jenderal Bina Marga, Hediyanto W Husaini saat memantau perekmbangan Jalan Tol Cisumdawu di Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, Jumat (18/12/2015).

Pada bagian lainnya yakni di Seksi II Fase II, saat ini sedang dilakukan persiapan pembangunan karena lahan yang terbebas sudah mencapai 80%. Pada seksi II ini, pembangunan yang dilakukan meliputi pembetonan termasuk pembangunan dua buah jembatan.

Jembatan pertama yakni Jembatan Cisaronge yang berada di Desa Cisaronge, Sumedang Jawa Barat. Tiang penyangga jembatan sepanjang 350 meter ini telah berdiri termasuk bentang baja sepanjang 80 meter. Saat ini

proses pembangunan jembatan adalah persiapan pengecoran badan jembatan. Berikutnya adalah jembatan Sukasarina.

Pada seksi II ini juga akan dilakukan pembangunan terowongan menembus bukit di desa cilengsar dengan panjang terowongan mencapai 472 meter.

Pembuatan terowongan dipilih lantaran pertimbangan biaya yang lebih murah dan waktu yang lebih singkat ketimbang harus membelah bukit.

"Membuat terowongan effort-nya (tenaga yang dikeluarkan) hanya 10% ketimbang membelah bukit," jelas Hediyanto.

Dengan kata lain, biaya dan tenaga bisa dihemat hingga 90% dengan melakukan pembuatan terowongan dan bukan membelah bukit.

"Selain itu, kalau membuat terowongan tentu tanah yang diangkut lebih sedikit. Kalau
membelah bukit segitu besar, tanahnya mau dibuang ke mana?" sambung dia.

(dna/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads