Direktur Jenderal Hortikultura, Kementan, Sputnik Sujono Kamino mengatakan, kenaikan harga beberapa barang kebutuhan, kondisi ini bukan semata-mata dipengaruhi oleh gangguan pada sisi suplai alias ketersediaan pasokan.
"Saya tanya ke pedagang di pasar induk, kenapa harga naik? Mereka jawab karena suplai terganggu akibat musim hujan," tutur Sputnik dalam paparan pers di kantornya, Senin (21/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, masalah angkutan bisa disiasati dengan ditutup terpal atau yang lainnya. "Hanya soal teknis. Eh tapi begitu tersudut mereka bilang, boleh lah pak sekali-sekali pedagang dan petani merasakan kenaikan harga. Ini bukti kalau sebenarnya mereka memang mencari momentum untuk naikkan harga," sambung dia.
Terkait masalah tersebut, sebenarnya hal itu di luar kewenangannya lantaran harga yang terbentuk di tingkat pedagang merupakan kewenangan Kementerian dan Lembaga lain, seperti Perum Bulog dan Kementerian Perdagangan untuk mengendalikannya.
Namun demikian, bukan berarti pihaknya lantas diam saja berpangku tangan. Di Direktorat Hortikultura yang dipimpinnya, Sputnik mendorong sektor pertanian sebagai ujung tombak produksi pangan untuk menerapkan manajemen suplai.
Manajemen yang dimaksud adalah dengan mencocokkan lama waktu tanam satu tanaman pangan, dengan tingkat kebutuhan atas tanaman pangan yang dimaksudkan.
Ia mengambil contoh seperti tanaman bawang yang butuh tiga bulan masa tanam hingga panen. Untuk itu, kebutuhan bawang pada bulan tertentu harus dipersiapkan 3 bulan sebelumnya.
"Misal untuk kebutuhan bulan Maret 2016 berarti harus tanam bulan Desember 2015. Kebutuhan bulan Februari 2016 harus tanam bulan November 2015 dan seterusnya," jelas dia.
Dengan cara ini diharapkan kebutuhan bawang setiap bulannya bisa terpenuhi sesuai kebutuhan. Dengan pasokan yang pas, lonjakan harga pun tidak akan terjadi.
Ia mengatakan, penanaman bawang tidak bisa dilakukan serentak satu kali untuk kebutuhan tiga bulan.
"Karena kalau ditanam serentak dia akan terjadi kelebihan pasokan ketika panen. Harganya pasti anjlok sekali. Sementara bulan berikutnya karena nggak ada yang tanam jadinya pasokan nggak ada, harga jadinya melonjak. Ini yang kita hindari. Kalau ada manajemen suplai, naik turun harga tidak akan drastis seperti sekarang," papar dia.
Disadarinya, penerapan manajemen suplai bukan hal yang mudah dilakukan. Butuh kerjasama berbagai pihak terutama aparat di daerah dari mulai Pemerintah Daerah hingga Dinas Pertanian.
"Kalau pusat sendiri yang jalankan nggak akan bisa. Jadi perlu bantuan sosialisasi terutama oleh mereka yang di daerah. Karena mereka kan yang bersentuhan langsung dengan para petani," simpul dia.
(dna/rrd)










































