Dalam kebijakan WTO ini, negara maju yang menjadi anggota WTO diwajibkan mulai menghapus subsidi ekspor pada petani mereka, sementara bagi negara-negara berkembang masih diberikan tenggat hingga 2018.
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifudin mengatakan, penghapusan subsidi pada petani tersebut secara langsung bisa membuat lonjakan harga kedelai impor asal Amerika Serikat (AS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kenaikan harga kedelai impor tersebut, lanjut Aip, otomatis akan membuat harga produk dari olahan kedelai seperti tempe dan tahu ikut disesuaikan.
“Kalau dibilang naik pasti naik, naiknya berapa itu tergantung karena tidak disebutkan kapan subsidi pertanian dihapus, kan paling lambat negara berkembang saja 2018,” katanya.
Aip mengungkapkan, harga kedelai impor yang masih disubsidi pemerintah AS yang berlaku di pengusaha tempe dan tahu lokal saat ini sebesar Rp 7.000/kg. Sementara harga kedelai lokal saat ini berkisar Rp 7.700/kg.
“Harga Rp 7.700 itu pun kadang tidak sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia), itu yang ditetapkan dalam SK (Surat Keputusan) Kemendag, kualitasnya kurang bagus. Jadi mau tidak mau ambil dari impor," tutupnya.
(rrd/rrd)











































