Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan mengatakan, penurunan sebesar itu terjadi karena tarif yang ditawarkan ojek online terlampau murah.
"Ini tidak fair, mereka disokong dana sangat besar. Ada juga yang sokongannya dari investor luar yang gila-gilaan. Yang paling kena dampaknya mikrolet, bajaj, dan taksi, setorannya drastis turunnya sampai 40%. Kalau minibus MetroMini dan Kopaja masih nggak ngaruh banyak," ungkap Shafruhan pada detikFinance, Kamis (24/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari tarif yang mereka tawarkan nggak rasional, kita modal kecil, sementara back up mereka investor besar. Kalau murah terus-terusan, kan perlu dipertanyakan tujuan mereka itu apa? Harusnya pemerintah kasih tindakan, karena mereka bukan angkutan umum resmi," tutupnya.
(dnl/dnl)











































