Deretan terompet dengan ragam bentul dan warna, berjejer di jalanan yang macet karena pengemudi sepeda kendaraan yang berebut jalan dengan pejalan kaki.
Pepeng, salah seorang terompet, tengah beristirahat di salah satu sudut trotoar. Sudah 2 jam lebih dirinya menjajakan dagangannya. Momen tahun baru jadi berkah buat dia dan 4 orang rekannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cuma sekali dalam setahun. Ini sampai dibantu 4 orang, ramai sekali dari seminggu lalu," kata Pepeng ditemui detikFinance di lapaknya, Minggu (27/12/2015).
Menurut Pepeng, terompet yang dijualnya dibelinya dari industri rumahan rekannya di Cengkareng, Tanggerang. Dalam sehari, dia bisa menjual ratusan terompet dengan omset di atas Rp 1,5 juta per harinya.
Pepeng mengungkapkan, rata-rata pembeli yang mencari terompet untuk dijual kembali di pusat keramain lain di Jabodetabek.
"Makanya kita jual lusinan, satu lusin paling murah Rp 30.000, yang mahal kita jual Rp 96.000 selusin. Dan ini pasti habis sebelum malam tahun baru, sudah kita hitung seperti tahun lalu," kata pedagang musiman yang biasa berjualan tas di pasar yang sama tersebut.
Seorang pedagang petasan yang tidak ingin disebutkan namanya, juga memanfaatkan momen jelang tahun baru guna mengais rezeki yang datang musiman tersebut. Dia bahkan rela meninggalkan profesi tukang parkir dan beralih jadi pedagang mercon.
"Jualan cuma sebulan, mumpung mau tahun baru. Jadi jualan mercon, lumayan banget sehari bisa sejuta, biasanya ngganggur jaga parkiran saja," katanya.
(ang/ang)










































