Salah satunya yang terjadi Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat. Sejak 3 pekan lalu, ratusan pedagang sudah memenuhi trotoar di bawah jalan layang yang menghubungkan Jalan Tubagus Angke dengan Mangga Dua tersebut.
Bahkan pedagang kaki lima dadakan ini, sudah meluber di badan jalan yang membuat pejalan kaki dan pengendara kendaraan harus berebut jalan yang semakin menyempit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pepeng, salah seorang pedagang terompet, mengaku sudah tak lagi berjualan tas sejak 3 pekan lalu. Dirinya kini fokus berjualan terompet bersama 4 rekannya.
"Sudah dari 3 minggu lalu jualan. Sehari rata-rata dapat Rp 1 juta ke atas, bisa Rp 2 juta kaya sekarang seminggu terakhir. Biasanya masih jualan di sini, tapi jualan tas," kata Pepeng ditemui detikFinance di kiosnya, Minggu (27/12/2015).
Dia mengaku baru akan beralih kembali jadi penjualan tas sehari setelah malam tahun baru. "Kalau sudah lewat malam tahun baru selesai, barang sih perhitungan kami pasti habis, jadi nggak disimpan buat tahun depan," jelas Pepeng.
Irom, seorang pedagang petasan dan kembang api, juga mengaku memanfaatkan momen pergantian tahun untuk membuka lapak petasan impor asal China di bawah jalan layang.
"Sebelumnya nggaggur saja nggak ada kerjaan. Sekarang bantu orang jualan mercon, untungnya lumayan sehari daripada nganggur," ujar Irom yang asli Garut ini.
Selain Irom dan Pepeng, seorang pedagang lain yang tidak ingin disebutkan namanya rela meninggalkan profesinya sebagai tukang parkir, dan banting setir jadi pedagang petasan dan kembang api musiman.
"Kadang jagain parkir, karena ini cuma sebulan yah enakan jualan mercon dulu. Laris mas, saya ikut Pak Haji, nanti setelah tahun baru selesai," katanya.
(ang/ang)











































