Menelusuri Jalan Panjang ke Bendungan Rotiklot di Perbatasan RI-Timor Leste

Menelusuri Jalan Panjang ke Bendungan Rotiklot di Perbatasan RI-Timor Leste

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 29 Des 2015 08:12 WIB
Menelusuri Jalan Panjang ke Bendungan Rotiklot di Perbatasan RI-Timor Leste
Belu - Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menambah pembangunan satu bendungan lagi di tahun ini. Setelah pada akhir 2014 lalu, bendungan Raknamo yang berlokasi di Kupang, diresmikan pembangunannya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bendungan baru ini bernama Rotiklot. Lokasinya ada di desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. Tepat di area batas wilayah Indonesia dengan negara tetangga, yakni Timor Leste.

Peletakan batu pertama atau groundbreaking‎ dilakukan oleh Jokowi yang ditemani oleh Ibu Negara Iriana dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono beserta pejabat terkait lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim pembangunan bendungan rotiklot dimulai," kata Jokowi sembari membunyikan serine tanda dimulainya groundbreaking, Senin (28/12/2015). Warga yang hadir pun membalas dengan tepuk tangan yang meriah.

Rotiklot adalah satu dari tujuh bendungan yang rencananya dibangun di‎ NTT. Enam lainnya adalah bendungan Raknamo yang sudah dimulai pada akhir 2014 dan ditargetkan selesai 2018.

Kemudian akan dibangun dalam kurun waktu empat tahun mendatang‎ adalah Kolhua di Kupang, Temef di Timor Tengah Selatan, Napunggate di Sikka, Lambo di Nagekeo dan Manikin di Kupang.

Banyaknya bendungan yang dibangun tidak terlepas dari kondisi NTT yang tergolong tropis kering (semi arid) dengan curah hujan rata-rata 1,200 mm/tahun. Musim hujan biasanya datang di pertengahan Desember hingga Maret di tahun berikutnya.Intensitas curah hujan tinggi dengan durasi waktu yang pendek, sehingga sering menimbulkan banjir.

Sisa kemarau panjang membuat debit sumber air menurun drastis.‎ Maka dampaknya adalah sulitnya kegiatan pertanian dilakukan dan pasokan air beku tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Maka tidak salah bila Jokowi menaruh perhatian serius untuk NTT.

"Kedaulatan pangan hanya bisa dicapai kalau kita mendirikan lumbung pangan, dan itu kuncinya hanya satu, harus ada air. Sampai kapanpun di NTT, bicara pangan nggak akan bisa kalau tidak ada air. Air itu hanya akan ada kalau ada bendungan," terang Jokowi.

Menuju bendungan Rotiklot memang membutuhkan waktu yang cukup panjang. Bila menggunakan jalur darat, maka dibutuhkan waktu setidaknya 6-7 jam dari Bandar Udara (Bandara) El Tari Kupang.

Akan tetapi‎, perjalanan ini dipastikan tidak akan membosankan. Sebab mata sepertinya sulit berkedip, karena menyaksikan indahnya alam khas Indonesia bagian timur yang belum terjamah. Udaranya segar, seperti tidak akrab dengan dengan polusi.

Jalanan panjang yang dilalui, tidak mengenal kata macet. Kecuali pada titik tertentu yang‎ dianggap sebagai hari pasar tradisional oleh masyarakat setempat. Kondisi jalan juga tampak mulus dan nyaman untuk dilewati. Hanya satu dua titik yang tampak tengah dalam perbaikan.

Area bendungan cukup jauh dari pemukiman masyarakat. Secara kasat mata cuma terlihat perbukitan yang berada di sekitar bendungan yang akan dibangun. Sungai mota rotiklot juga tidak terlalu jelas terlihat dari atas.

Bendungan Rotiklot terhubung dengan sungai Mota Rotiklot yang memiliki panjang 6,41 km, luas daerah aliran sungai 11,69 km2. Bendungan mampu menampung 2,67 juta m3 dengan luas daerah genangan 24,91 ha dan usia guna waduk selama 50 tahun.

Dari bendungan akan dihasilkan suplai air baku untuk masyarakat dan pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter per detik.‎ Ini juga sekaligus menjadi penyedia air untuk padi seluas 139 hektar dan palawija 500 hektar.

Manfaat lainnya akan dinikmati masyarakat setempat adalah ketersediaan listrik sebesar 0,15 mw dan pengendalian banjir di wilayah Ainiba. Masyarakat juga bisa menjadikan bendungan sebagai objek pariwisata.

Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan adalah Rp 450 miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015. Kontraktor pelaksana adalah PT Nindya Karya dengan jangka waktu pelaksanaan 37 bulan atau pada 2018.

"Kita akan kembali mereview proyek dengan kontraktor. Kita ingin dipercepat, diusahakan pada 17 Agustus 2018 sudah selesai dan dapat diairi," ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mudjiadi‎ ‎pada kesempatan yang sama.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads