Jalanan yang membelah perkampungan hingga kawasan hutan lindung ini, mayoritas sudah diaspal hingga dibeton. Hanya sedikit bagian di wilayah Sorong Selatan yang masih dalam proses pengaspalan.
Dengan kondisi jalanan relatif mulus, mobil seperti jenis double cabin, Toyota Hilux yang ditumpangi detikFinance bisa melesat hingga 100 km per jam. Mobil bisa melaju dengan cepat karena jalanan yang mulus dan sepi oleh lalu lintas kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang ada sedikit bagian yang masih dalam proses konstruksi sehingga kendaraan harus mengurangi kecepatan. Tak hanya itu, hewan peliharaan warga juga harus diwaspadai.
Berapa beberapa kali kendaraan yang ditumpangi detikFinance, sempat mengerem mendadak karena ada hewan milik warga yang nyelonong di jalanan.
"Kalau nabrak-nabrak kita ganti rugi mahal. Baik anjing atau babi," tambahnya.
Sayangnya, di sepanjang jalan belum tersedia SPBU atau rest area sehingga rombongan sempat menepi di wilayah Sorong Selatan untuk istirahat dan buang air kecil di pinggir jalan.
Saat istirahat, rombongan sempat membeli buah rambutan yang dijual anak-anak Papua.
Kondisi jalan saat ini, jauh berbeda saat detikFinance menuju lokasi di Sorong Selatan, 1 tahun silam. Jalanan masih berupa tanah dan pekerjaan konstruksi jalan masih marak di sepanjang Sorong-Sorong Selatan.
Saat itu, beberapa kendaraan terjebak lumpur sehingga harus diderek. Alhasil, waktu tempuh menjadi sangat lama. Kini, pemandangan itu sudah tak ada. Jarak Sorong-Sorong Selatan bisa ditempuh antara 3 sampai 3,5 jam.
"Proses pembangunan sudah dimulai sejak tahun 2010. Sekarang sudah bagus," ujar pria asal Makassar yang telah merantau di Sorong sejak 2007.
Siti, warga perantau asal Jawa yang telah menetap 12 tahun di ibu kota Kabupaten Sorong Selatan, Teminambuan, mengaku kondisi jalan yang menghubungkan Sorong-Sorong Selatan sudah sangat baik.
Berbeda saat awal merantau. Akses jalan masih terbuat dari tanah. Saat musim hujan, Sorong Selatan-Sorong bisa ditempuh dalam waktu 3 hari karena jalanan berlumpur. Kini, waktu tempuh hanya 3 jam dengan kondisi jalan mulus.
"Dulu akibatnya harga-harga jadi sangat mahal karena waktu tempuh 3 hari. Kalau mau berangkat, itu rombongan. Jadi kalau ada yang terjebak di tanah, dia ditarik. Sekarang jarak tempuh bisa 3 jam saja," ujar wanita penjual nasi di Teminambuan ini.
(feb/drk)










































