Melihat Posisi Perdagangan RI di ASEAN Jelang MEA

Melihat Posisi Perdagangan RI di ASEAN Jelang MEA

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 31 Des 2015 16:15 WIB
Melihat Posisi Perdagangan RI di ASEAN Jelang MEA
Jakarta -

Tak sampai 24 jam lagi, Indonesia resmi memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Barang dan jasa dari seluruh negara anggota ASEAN ditambah China, Jepang, dan Korea Selatan akan lebih bebas untuk masuk ke Indonesia, begitu juga sebaliknya ekspor barang dan jasa Indonesia ke negara-negara tersebut lebih bebas.

Meski baru resmi dimulai besok, MEA sejatinya sudah 'pemanasan' sejak 2010 karena pembebasan tarif telah dilakukan secara bertahap sejak 5 tahun silam. Sejak pembebasan tarif mulai dilakukan, ekspor maupun impor Indonesia ke kawasan ASEAN terus tumbuh.

Namun, tren dalam 5 tahun terakhir kurang berpihak pada Indonesia. Rata-rata pertumbuhan impor non migas Indonesia dari negara-negara ASEAN sejak 2010 mencapai 4,7%, sementara rata-rata pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke kawasan ASEAN dalam 5 tahun terakhir hanya 0,66%, jauh di bawah pertumbuhan impor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat pertumbuhan ekspor yang kalah pesat dibanding pertumbuhan impor ini, neraca perdagangan non migas Indonesia yang masih surplus US$ 3,14 milyar terhadap ASEAN pada 2010 lalu perlahan berubah menjadi defisit US$ 889,62 juta pada 2014. Tetapi, di tahun ini neraca perdagangan non migas Indonesia dengan ASEAN kembali mengalami surplus, tercatat ada surplus sebesar US$ 1,6 miliar hingga Oktober 2015.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), yang dikutip detikFinance, Kamis (31/12/2015) tren impor Indonesia dari Kawasan ASEAN lima tahun terakhir (2010-2014) menunjukkan peningkatan sebesar 4,70%, dimana impor pada tahun 2010 sebesar US$ 23,85 miliar menjadi US$ 29,76 miliar pada tahun 2014. Tren ekspor Indonesia ke Kawasan ASEAN lima tahun terakhir (2010-2014) adalah sebesar 0,66%, dimana ekspor pada tahun 2010 sebesar US$ 26,99 miliar menjadi US$ 28,87 miliar pada tahun 2014.

Impor non migas Indonesia dari Kawasan ASEAN tahun 2014 mencapai nilai US$ 29,76 miliar, nilai ini mengalami penurunan sebesar 1,75% terhadap impor periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 30,29 miliar. Sementara impor non migas Indonesia dari Kawasan ASEAN periode Januari-Oktober 2015 mencapai nilai US$ 21,43 miliar, nilai ini mengalami penurunan sebesar 14,95% terhadap impor periode Januari-Oktober 2014 yang tercatat sebesar US$ 25,20 miliar.

Lima komoditas impor Indonesia dari Kawasan ASEAN dengan nilai tertinggi pada tahun 2014 yaitu Telephone For Cellular Networks Or For Other Wireless Networks (851712) sebesar US$ 939,57 juta (3,16%); Cane Sugar, Raw, In Solid Form, Not Containing Added Flavoring Or Coloring Matter (170111) sebesar US$ 656,15 juta (2,20%); Polypropylene, In Primary Forms (390210) sebesar US$ 561,78 juta (1,89%) ; Polyethylene Having A Specific Gravity Of Less Than 0.94, In Primary Forms (390110) sebesar US$ 456,70 juta (1,53%); dan Para-Xylene (1,4-Dimethylbenzene) (290243) sebesar US$ 445,49 juta (1,50%).

Adapun lima komoditas impor Indonesia dari Kawasan ASEAN dengan nilai tertinggi pada periode Januari-Oktober 2015 yaitu Parts Of Telephone Sets (851770) sebesar US$ 567,99 juta (2,65%) ; Cane Sugar, Raw, In Solid Form, Not Containing Added Flavoring Or Coloring Matter (170111) sebesar US$ 449,63juta (2,10%) ; Ethylene (Ethene) (290121) sebesar US$ 390,73 juta (1,82%) ; Polypropylene, In Primary Forms (390210) sebesar US$ 362,64 juta (1,69%) ; Parts And Accessories For Motor Vehicles, Nesoi (870899) sebesar US$ 356,15 juta (1,66%).

Ekspor non migas Indonesia ke ASEAN tahun 2014 mencapai nilai US$ 28,87 miliar, nilai ini mengalami penurunan sebesar 3.94% terhadap ekspor tahun 2013 yang tercatat sebesar USD 30,06 milyar. Sementara ekspor non migas Indonesia ke Kawasan ASEAN pada Januari-Oktober 2015 mencapai nilai US$ 23,03 miliar, nilai ini mengalami penurunan sebesar 4.73% terhadap ekspor periode Januari-Oktober 2014 yang tercatat sebesar US$ 24,18 miliar.

Lima komoditas ekspor Indonesia ke Kawasan ASEAN dengan nilai tertinggi pada tahun 2014 yaitu Bituminous Coal, Whether Or Not Pulverized, But Not Agglomerated (270112) sebesar US$ 1,49 miliar (5,19%) ; Coal, Other Than Anthracite Or Bituminous, Whether Or Not Pulverized, But Not Agglomerated (270119) sebesar US$ 1,26 miliar (4,37%) ; Tin, Not Alloyed, Unwrought (800110) sebesar US$ 1,11 miliar (3,85%); Palm Oil And Its Fractions, Refined But Not Chemically Modified (151190) sebesar US$ 1,01 miliar (3,48%) ; Cigarettes Containing Tobacco (240220) sebesar US$ 701,43 juta (2,43%).

Sementara lima komoditas ekspor Indonesia ke Kawasan ASEAN dengan nilai tertinggi pada periode Januari-Oktober 2015 yaitu Bituminous Coal, Whether Or Not Pulverized, But Not Agglomerated (270112) sebesar US$ 1,11 miliar (4,84%) ; Coal, Other Than Anthracite Or Bituminous, Whether Or Not Pulverized, But Not Agglomerated (270119) sebesar US$ 1,07 miliar (4,67%) ; Palm Oil And Its Fractions, Refined But Not Chemically Modified (151190) sebesar US$ 756,50 juta (3,28%) ; Palm Oil And Its Fractions, Crude, Not Chemically Modified (151110) sebesar US$ 610,19 juta (2,65%); Gold, Nonmonetary, Unwrought Nesoi (Other Than Powder) (710812) sebesar US$ 588,60 juta (2,55%).

Berdasarkan data ekspor dan impor di atas, neraca perdagangan non migas Indonesia dengan ASEAN untuk periode tahun 2014 mengalami defisit sebesar US$ 889,62 juta, dimana nilai ini mengalami peningkatan sebesar 279,13% dari nilai defisit tahun 2013 sebesar US$ 234,64 juta.

Sementara untuk neraca perdagangan non migas Indonesia dengan ASEAN untuk periode Januari-Oktober 2015 mengalami surplus sebesar US$ 1,60 miliar, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 257,13% dari nilai
defisit periode Januari-Oktober 2014 sebesar US$ 1,02 miliar.

(mkl/mkl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads