Namun, pemerintah tetap berjaga-jaga seandainya 1,5 juta ton beras impor tersebut ternyata belum cukup. Karena itu, pemerintah telah melakukan penjajakan untuk mengimpor beras dari Pakistan dan Myanmar.
โ"Dalam rangka itu (menjaga stabilitas harga beras) ada penjajakan ke Pakistan dan Myanmar, untuk mengetahui adanya beras. Tapi itu benar-benar hanya untuk berjaga-jaga saja," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (31/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan dan gejolak harga beras, maka stok milik Perum Bulog harus diperkuat melalui impor. Di akhir Maret 2016, menjelang musim panen, diperkirakan stok Bulog berada di posisi 1,35 juta ton. Bila tak ada impor, Bulog sudah tak punya stok lagi untuk menjaga stabilitas harga beras.โ "Kita perkirakan di akhir Maret stok kita 1,35 juta ton itu sudah termasuk yang 1,5 juta ton dari impor. Kalau nggak termasuk (impor) itu, paceklik ini akan gawat," paparnya.
โMeski demikian, pemerintah masih berniat lebih memperkuat stok Bulog lagi, berjaga-jaga andai ternyata stok masih belum cukup karena efek el nino lebih hebat dibanding yang diperkirakan. "(Stok 1,35 juta ton di Maret 2016) belum termasuk yang pembicaraan dengan Pakistan dan Myanmar. Itu penjajakan saja, untuk berjaga-jaga kalau dampak el nino dalam. Belum ada kontrak," tukasnya.
Antisipasi yang dilakukan saat ini, sambungnya, belajar dari pengalaman el nino 1997. Saat itu pemerintah kurang antisipasi, impor beras hanya sedikit di akhir 1997. Namun akhirnya pemerintah terpaksa harus mengimpor beras hingga 7 juta ton, lebih besar dari kebutuhan riil, karena masyarakat panik ketika pasokan beras di dalam negeri makin tipis dan akhirnya terjadi 'panic buying'.
Akibat pembelian panik tersebut, permintaan menjadi tidak wajar, masyarakat berlomba memborong beras yang ada di pasaran karena takut tidak kedapatan beras. Hal ini membuat harga beras melambung sangat tinggi melampaui kewajaran. Inilah yang ingin dicegah pemerintahan saat ini, agar jangan sampai peristiwa serupa terulang.
"Di 1997 impor beras kita hanya 400-an ribu ton di 1997. Waktu itu kita belum mengerti, kurang sensitif memahami kalau musim tanam bergeser itu dampaknya bagaimana. Karena iru tidak ada persiapan, akhirnya perlu impor beras 7 juta ton. Kalau oran g panik, ada beras dengan harga berapa pun dibeli," tutupnya.
โ
(hns/hns)











































