Yang utama, kata Basuki, adalah kontur atau kondisi permukaan tanahnya yang tergolong terjal, naik turun, dan tidak rata. Membangun jalan di atas permukaan tanah seperti itu membutuhkan perlakuan khusus.
"Kesulitan pembangunan Papua, satu, adalah medannya. Bentang alamnya terjal. Contohnya seperti di daerah antara Kenyam ke Wamena ada beberapa segmen yang sekarang sudah tembus 24 km tapi masih harus diturunkan supaya lebih landai," kata Basuki kepada detikFinance di ruang kerjanya, Senin (4/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya pemerintah nggak ingin membangun infrastruktur yang justru membahayakan bagi penggunannya," sambung dia.
Masalah kedua adalah kondisi alam Papua yang sebagian besar masih tertutup hutan. Kawasan yang tertutup hutan bukan sekedar sulit untuk dibuka namun juga sekaligus menyimpan potensi ancaman keamanan.
"Karena di tengah hutan itu kan kita nggak tahu ada ancaman apa saja. Kalau kontraktor kita lepas begitu saja, akan sulit buat mereka bekerja," jelasnya.
Namun demikian Basuki mengaku, pihaknya tetap optimistis target Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) Jalan Trans Papua selesai di 2018 dapat tercapai.
"Sulit bukan berarti tidak mungkin. Makanya kami melakukan berbagai terobosan seperti bekerjasama dengan Zeni tempur Angkatan Darat (TNI AD). Jadi kami yakin target 2018 bisa tercapai," pungkas dia.
(dna/hns)











































